Kamis, 21 Juli 2016

Mengendalikan Hama Kepinding Tanah

Salam Tani!! Pada Blog ini saya  masih membahas hama tanaman padi. Tidak asing lagi bagi petani padi di Indonesia dengan hama ketupluk atau kepinding tanah. Hama yang berwarna hitam kadang ada yang agak kecoklatan yang hidupnya dipangkal batang padi ini mempunyai nama latinScotinophora coarctata. Serangga ini mudah dijumpai saat bulan purnama dimana cahaya sangat terang dimalam hari dengan bau yang sangat busuk/ langu. Biasanya juga bisa dijumpai saat beterbangan disekitar sorot/ cahaya  lampu jalan yang terang.
Dari pengamatan saya serangan hama kepinding tanah Scotinophora coarctata bisa terjadi pada fase vegetatif maupun generatif. Jika terjadi pada fase vegetatif akan berakibat berkurangnya jumlah anakan. Jika menyerang pada saat generatif atau pada saat bunting maka akan mengakibatkan malai padi pendek dan gabah menjadi hampa. Kepinding tanah/ketupluk menyerang dengan cara menghisap cairan pangkal batang tanaman padi pada . 

Biologi dan Morfalogi hama kepinding tanah/ ketupluk Scotinophora coarctata:
Imago/Serangga Dewasa
  • Warna coklat kehitaman dan bila terganggu berbau khas menyengat
  • Lama bertelur 12-17 hari setelah kawin.
  • Umur imago 4-7 bulan hal ini disebabkan oleh umur inang, makin tua tanaman serangga makin berkembang dengan baik
Telur
  • Bentuk telur lonjong, berwarna merah jambu kehijau-hijauan
  • Letak telur berkelompok pada pangkat rumpun padi
  • Stadium telur 4-7 hari.
Nimfa
  • Warna nimfa coklat kekuningan.
  • Tidak bersayap.
  • Stadium nimfa 20-30 hari.
Dinamika populasi
  • Serangga dewasa mampu hidup dan berkembangbiak selama 2 musim.
  • Waktu musim kemarau serangga dewasa dapat bertahan pada bongkahan tanah yang berumput.
  • Pada saat cuaca baik dewasa terbang ke pertanaman dalam jumlah besar (lebih menyukai keadaan basah dan lembab)
  • Serangga dewasa menyukai intensitas cahaya yang tinggi dan mudah ditangkap pada saat bulan purnama.
  • Tanaman inang : Panicum, jagung Sceleria, Scirphus dan padi liar.
  • Kepinding tanah menyerang pada bagian batang padi.
Pengelolaan
  • Menurut saya pembajakan tanah secara sempurna perlu segera  dilakukan setelah panen untuk mematikan telur, nimfa dan dewasa yang tinggal pada pangkal padi.
  • Selain itu pengeringan lahan sawah untuk menghambat perkembangan.
  • Sanitasi/ kebersihan lahan dan lingkungan dari tumbuhan inang rerumputan menurut saya juga perlu dilakukan 
  • Pengalaman saya penggunaan insektisida untuk mengendalikan hama ketupluk/ kepinding tanah ini perlu selektif karena tidak semua insektisida mampu mengendalikannya. Jika memang terpaksa harus menggunakan insektisida saya menyarankan gunakan insektisida daya racun pernafasan yang kuat seperti bahan aktif dari golongan piretroid sintetik. Contoh : bahan aktif alfa sipermetrin, delta metrin, sipermetrin dll
Musuh alami

  • Parasitoid telur : Scelionid
  • Predator telur ; Katak dan kadal
  • Predator telur,nimfa dan dewasa adalah kumbang Carabidae (Sang T).

Cara Pengendalian Hama Penggerek Batang Padi

Hama penggerek batang pada tanaman padi adalah salah satu hal yang meresahkan. Maka cara mengendalikan hama penggerek batang tanaman padi harus dapat dipahami agar mudah dilakukan. Karena jika tidak, maka hasil panen padi akan menurun.
Kehilangan hasil akibat serangan penggerek batang padi pada stadium vegetatif dapat dikompensasi dengan pembentukan anakan baru. Berdasarkan simulasi pada stadium vegetatif, tanaman masih sanggup mengkompensasi akibat kerusakan oleh penggerek batang padi sampai 30%. Serangan pada stadium generatif menyebabkan malai tampak putih dan hampa yang disebut beluk (whiteheads). Kerugian hasil yang disebabkan setiap persen gejala beluk berkisar 1-3% atau rata-rata 1.2%.
Di Indonesia telah di temukan enam jenis penggerek batang padi yang terdiri dari penggerek batang padi kuning Scirpophaga incertulas (Walker), penggerek batang padi putih Scirpophaga innotata (Walker), penggerek batang padi bergaris Chilo suppressalis (Walker), penggerek batang padi kepala hitam Chilo polychrysus Meyrick, penggerek batang padi berkilat Chilo auricilius Dudgeon (kelima spesies tersebut termasuk ordo Lepidoptera dan famili Pyralidae), dan penggerek batang padi merah jambu Sesamia inferens (Walker) (spesies ini termasuk ordo Lepidoptera dan famili Noctuidae).
Berikut cara pengendalian Hama Penggerek Batang Padi:
A.      Pada Daerah Serangan Endemik
1.      Pengaturan Pola Tanam
Ø  Tanam serentak untuk membatasi sumber makanan bagi penggerek batang padi.
Ø  Rotasi tanaman padi dengan tanaman bukan padi untuk memutus siklus hidup hama.
Ø  Pengaturan waktu tanam yaitu berdasarkan penerbangan ngengat atau populasi larva di tunggul padi. Tanam jangan bertepatan dengan puncak penerbangan ngengat. Tanam bisa dilakukan pada 15 hari sesudah puncak penerbangan ngengat generasi pertama dan atau 15 hari sesudah puncak penerbangan ngengat generasi berikutnya apabila generasi penggerek batang padi di lapangan overlap.
2.      Pengendalian Secara Mekanik dan Fisik
Ø  Cara mekanik dapat dilakukan dengan mengumpulkan kelompok telur penggerek batang padi di persemaian dan di pertanaman.
Ø  Menangkap ngengat dengan light trap (untuk luas 50 ha cukup 1 light trap).
Ø  Cara fisik yaitu dengan penyabitan tanaman serendah mungkin sampai permukaan tanah pada saat panen (disingkal). Usaha itu dapat pula diikuti penggenangan air setinggi 10 cm agar jerami atau pangkal jerami cepat membusuk sehingga larva atau pupa mati.
3.      Pengendalian Hayati
Ø  Pemanfaatan musuh alami parasitoid dengan melepas parasitoid telur seperti Trichogramma japonicum dengan dosis 20 pias/ha (1 pias = 2000-2500 telur terparasit) sejak awal pertanaman.
4.      Pengendalian Secara Kimiawi
Ø  Penggunaan insektisida dapat dilakukan bila sudah ditemukan 1 ekor ngengat pada light trap atau pertanaman, dan aplikasi insektisida sebaiknya dilakukan pada saat 4 hari setelah ditemukan 1 ekor ngengat pada light trap atau pertanaman tersebut.
Ø  Penggunaan insektisida butiran di persemaian dilakukan jika disekitar pertanaman ada lahan yang sedang atau menjelang panen pada satu hari sebelum tanam.
Ø  Pada pertanaman, insektisida butiran diberikan terutama pada stadium vegetatif dengan dosis 20 kg insektisida granule/ha. Pada stadium generatif aplikasi dengan insektisida yang disemprotkan (cair).
Ø  Insektisida butiran yang direkomendasikan adalah insektisida yang mengandung bahan aktif karbofuran.
Ø  Insektisida semprot (cair) yang direkomendasikan adalah insektisida yang mengandung bahan aktif spinetoram, klorantraniliprol, dan dimehipo.
Ø  Hal-hal yang harus diperhatikan dalam aplikasi insektisida adalah: keringkan pertanaman sebelum aplikasi, aplikasi saat air embun tidak ada yaitu sekitar jam 8 -11 atau dilanjutkan pada sore hari ketika angin sudah tidak kencang, tepat dosis, tepat jenis, dan tepat air pelarut (sekitar 350-500 liter air/ha).
5.      Pengendalian Preventif
Ø  Sebagai tindakan preventif dalam pengendalian penggerek batang padi, memantau fluktuasi populasi penggerek batang padi perlu dilakukan secara rutin. Untuk memantau fluktuasi populasi penggerek batang padi yang berasal dari migrasi dapat menggunakan light trap.
B.      Pada Daerah Serangan Sporadik
Ø  Cara pengendalian selain menggunakan insektisida yang dapat diterapkan sesuai dengan keadaan setempat.
Ø  Penyemprotan dengan insektisida
Ø  Apabila sudah ditemukan 1 ekor ngengat pada light trap atau pertanaman, dan aplikasi insektisida sebaiknya dilakukan pada saat 4 hari setelah ditemukan 1 ekor ngengat pada light trap atau pertanaman tersebut (Sang T).