Kamis, 08 Desember 2016

Walang Sangit

Apa itu walang sangit? Walang sangit (Leptcorisa oratorius) adalah serangga pengganggu atau hama yang sering merusak tanaman budidaya. Hama ini terdapat dan merusak pada hampir semua jenis tanaman. Namun dari sekian banyak jenis tanaman, yang paling disukai hama serangga ini adalah tanaman padi. Walang sangit memiliki bau yang khas dan sangat menyengat, karena baunya ini maka disebut walang sangit. Hama walang sangit akan mengeluarkan aroma khasnya jika ia dalam bahaya, aroma menyengat tersebut merupakan bentuk pertahanan diri dari ancaman predator. Di setiap daerah di Indonesia, hama walang sangit memiliki sebutan yang beragam, misalnya masyarakat Sunda menyebut dengan nama kungkang, masyarakat Sumatera menyebut dengan nama pianggang, masyarakat madura menyebut dengan nama tenang dan lain sebagainya. Pada tanaman padi walang sangit merupakan hama utama yang berbahaya dan sangat merusak. Walang sangit menyerang tanaman padi dengan cara menghisap cairan tangkai bunga serta bulir padi pada fase pengisian bulir dan pemasakan bulir sehingga pengisian bulir padi tidak sempurna, bahkan seringkali menyebabkan bulir padi hampa. Hama walang sangit dianggap hama penting yang berbahaya karena dapat mengakibatkan menurunnya produksi padi sekaligus menurunkan kualitas gabah. Tanaman padi yang terserang hama ini akan menghasilkan beras yang berkualitas buruk, beras yang dihasilkan akan mengapur dan berubah warna. Serangan hama walang sangit terjadi ketika tanaman padi memasuki fase generatif (pembungaan) sampai fase matang susu. Pada serangan hebat, walang sangit dapat menyebabkan kehilangan hasil antara 50% hingga 80%.
Perilaku dan Cara Hidup WALANG SANGIT
Satu ekor hama walang sangit betina dewasa dapat menghasilkan telur lebih dari 200 butir, telur-telur tersebut biasanya diletakkan pada bagian ujung (atas) daun tanaman padi atau daun bendera. Lama stadia telur walang sangit adalah 7 hari. Telur yang telah menetas dan menjadi nimfa akan bergerak ke malai untuk mencari bulir padi yang sedang stadia masak susu. Sedangkan bulir padi yang sudah keras tidak disukai. Nimfa walang sangit berwarna hijau dan lama-kelamaan berangsur-angsur berubah warna menjadi coklat. Nimfa ini akan mengalami ganti kulit hingga 5 kali. Nimfa walang sangit terus bergerak dari satu bulir ke bulir padi yang lain untuk dimakannya. Pada siang hari yang panas, nimfa dan walang sangit dewasa tidak begitu aktif dan bersembunyi dibawah kanopi tanaman. Serangga dewasa pada pagi hari aktif terbang dari rumpun ke rumpun sedangkan penerbangan yang relatif jauh terjadi pada sore atau malam hari.
Cara Pengendalian Walang Sangit
Pengendalian hama walang sangit sebaiknya dilakukan secara terpadu, yaitu dengan menerapkan berbagai teknik pengendalian. Pengendalian hama walang sangit berikut ini dapat diterapkan untuk menekan perkembangannya dan meminimalisir kerugian akibat rusaknya bulir padi. Berikut ini 4 cara pengendalian hama walang sangit pada tanaman padi ;
1.       Pengendalian Walang sangit dengan Melakukan Sanitasi Lingkungan
Sanitasi lingkungan dengan membersihkan areal pertanaman padi terbukti mampu menekan serangan hama walang sangit dan mencegah kerugian. Pembersihan areal tanaman padi dari gulma dan rerumputan sebaiknya dilakukan sejak sebelum penanaman hingga masa panen. Tanaman inang hama walang sangit sangat banyak, yaitu semua jenis rerumputan. Oleh karenanya, pembersihan gulma dilakukan sesering mungkin supaya tidak ada tanaman inang yang dapat dimanfaatkan walang sangit untuk bertahan hidup dan berkembang biak.
2.       Pengendalian Walang sangit dengan Kultur Teknis
Salah satu cara pengendalian walang sangit secara kultur teknis adalah dengan menanam padi secara serempak dalam satu hamparan lahan yang luas. Selain itu pemupukan harus dilakukan secara merata supaya tanaman padi tumbuh seragam sehingga jumlah generasi perkembangan hama ini semakin sedikit. Perlu diingat bahwa hingga saat ini belum ada varietas padi yang tahan terhadap hama walang sangit. Untuk itu penanaman serempak sangat dianjurkan karena telah terbukti menekan jumlah populasi hama walang sangit. Selisih waktu tanam dalam satu hamparan lahan tidak boleh lebih dari 2,5 bulan. Semakin kecil selisih waktu tanam akan semakin baik,  sebab semakin serempak waktu tanam padi akan semakin sedikit populasi walang sangit pada hamparan tersebut.
3.        Pengendalian Walang sangit Secara Biologi
Pengendalian biologi adalah pengendalian yang dilakukan dengan agens hayati, yaitu dengan memanfaatkan parasitoid dan jamur. Salah satu agens hayati yang dapat digunakan untuk menekan perkembangan walang sangit adalah  jamur Beauviria bassiana dan Metharizum sp. Jamur Beauviria bassiana ini menyerang walang sangit pada stadia nimpa dan dewasa. Jamur ini menyerang kulit serangga sehingga terinfeksi membentuk lapisan putih pada serangga hama dan mengakibatkan kematian. Jamur Beauviria bassiana ini telah tersedia di lapangan yaitu pada kios-kios pertanian dengan merk dagang Agens Hayati ” Bive-TM”. Walang sangit tertarik oleh senyawa (bebauan) yang dikandung tanaman Lycopodium sp dan Ceratophylum sp.
4.       Pengendalian Walang sangit dengan Perangkap
Hama walang sangit sangat tertarik pada bau busuk atau bau bangkai. Hal ini bisa dimanfaatkan untuk mengendalikan walang sangit menggunakan perangkap kemudian memusnahkannya. Untuk membuat perangkap walang sangit bisa menggunakkan bangkai kepiting, cuyu, keong mas, rajungan, ikan, kotoran ayam atau daging busuk. Caranya cukup mudah, yaitu hanya dengan meletakkan bangkai pada tonggak kayu ditepi sawah. Hama walang sangit akan tertarik untuk menghisap cairan bangkai tersebut, setelah terkumpul walang sangit bisa dimusnahkan. Supaya efektif, perangkap sebaiknya dipasang ketika tanaman padi memasuki fase berbunga sampai masak susu.
5.       Pengendalian Walang sangit Secara Kimiawi
Pengendalian walang sangit secara kimiawi adalah pengendalian yang dilakukan dengan penyemprotan insektisida kimia. Pengendalian menggunakan insektisida kimia dapat dilakukan jika populasi hama walang sangit berada pada ambang kendali yaitu 6 ekor / m2. Penyemprotan insektisida sebaiknya dilakukan ketika hama walang sangit aktif, yaitu pada pagi hari dan sore hari. Penyemprotan dilakukan menjelang tanaman padi memasuki stadia berbunga dan setelah memasuki stadia masak susu. Banyak jenis insektisida yang dapat digunakan untuk mengendalikan walang sangit, misalnya insektisida yang berbahan aktif fipronil, MIPC, BPMC, propoksur atau metolkarb. Hindari menggunakan insektisida yang berbentuk granul/butiran seperti karbofuran, karbofuran sangat berbahaya bagi lingkungan dan manusia.

Demikian “Cara Mengendalikan Hama Walang Sangit“. Semoga bermanfaat…
(Sang T)

Pengendalian Kepinding tanah

Hama adalah salah satu masalah besar bagi petani. Untuk itu perlunya seorang petani mengenali dan memahami dari tiap jenis-jenis hama yang sering menyerang dan memperburuk tumbuh kembang tanaman. Salah satu jenis hama yang sering menyerang tanaman padi adalah serangga kepinding tanah.
Sebelum melangkah kepada cara menanggulangi serangga kepinding tanah tersebut, terlebih dahulu kenalilah jenis serangga tersebut. Serangga kepinding tanah termasuk jenis kepik berwarna hitam kusam dengan panjang 7–10 mm dan lebar 4 mm. Tanaman inang terdiri dari padi, jagung dan tumbuh-tumbuhan golongan rumput-rumputan (graminae). Kepadatan populasi kepinding tanah sangat berpengaruh terhadap besarnya serangan hama tersebut pada tanaman padi. Infestasi awal kepinding tanah pada tanaman yang lebih muda menimbulkan kerusakan tinggi. Nimfa dan imago menghisap cairan tanaman pada bagian batang dan mengakibatkan tanaman menjadi kerdil dengan daun-daun yang berwarna coklat kemerahan atau kuning. Serangan kepinding tanah pada awal musim menyebabkan pengurangan jumlah anakan dan tanaman menjadi kerdil. Kepinding tanah yang menyerang malai mengakibatkan malai tidak berkembang sempurna dan bulir kosong. Pada populasi tinggi, dapat menyebabkan pertanaman mati, diawali dengan perubahan warna kuning kemerahan dan akhirnya menjadi coklat. Semakin awal infestasi semakin berkurang produksi yang dihasilkan. Penurunan hasil padi pada infestasi stadia anakan (30 hst) pada kepadatan 25–75 ekor per rumpun hasilnya akan berkurangantara 51–71%. Sedang jika infetasi pada stadia tanaman generatif, padakepadatan 25–75 ekor per rumpun hasilnya akan berkurang antara 37–48%. Pada serangan berat dapat menurunkan hasil 60 sampai 80%.
Pengendalian hama kepinding tanah:
  1. Menggunakan miko insektisida berupa cendawan Beauveria bassiana yang diaplikasikan seperti insektisida kimia karena mampu menekan populasi hingga 30%.
  2. Kultur teknis dengan cara pengolahan tanah yang baik, pengaturan air padatanaman padi (intermitten), penyiangan atau pengendalian gulma dan sanitasi lingkungan (gulma dan rerumputan) terutama pada galengan dan tanggul saluran irrigasi, atau pinggiran jalan.
  3. Menggunakan musuh alami seperti parasitoid dan predator. Mengingat pentingnya peran kepinding tanah pada pertanaman padi dan sulitnya pengendalian, maka untuk dapat menentukan strategi pengendalian yang lebih tepat perlu diketahui perkembangan populasinya dan jenis-jenis musuh alami yang potensial untuk mengendalikan hama tersebut.
  4. Secara kimia dengan insektisida seperti Fastac 15 EC, Atabron 50 EC, Matador25 EC dan regent 50 SC , dengan volume larutan 400-500 lt/ha. Namun, penggunaan insektisida sintetik secara tidak bijaksana dan berlebihan dapat menimbulkan beberapa masalah seperti pencemaran lingkungan, hama menjadi resistensi dan terjadi resurjensi hama, serta terbunuhnya serangga yang bermanfaat (Oka 1995). Hama kepinding tanah sangat sulit dikendalikan karena bersembunyi di pangkal batang tanaman padi. Meski disemprot dengan insektisida tetap tidak efektif, karena semprotan tidak dapat menjangkau lokasi persembunyian hama tersebut. Ketika disemprot saat sawah dikeringkan, hama tersebut tetap tidak mati karena bersembunyi di pangkal batang padi, sehingga penyemprotan harus diulangi dan 3 hal ini dapat menyebabkan terbunuhnya serangga bermanfaat yang ada di pertanaman padi akibat penyemprotan insektisida terlalu intensif.
  5. Secara fisik dan mekanis dengan menggunakan lampu perangkap dan pelapasan bebek/itik disawah.

Musuh alami 
Musuh alami kepinding tanah antara lain:
  • Parasitoid telur : Scelionid
  • Predator telur : Katak dan kadal
  • Predator telur, nimfa dan dewasa adalah kumbang Carabidae
  • Musuh alami yang dapat ditemukan di pertanaman padi yang dapat berperan sebagai predator kepinding tanah di antaranya adalah Agonium daimio (Coleoptera: Carabidae), Stenonabis tagalicus (Hemiptera: Nabidae), Rana sp. (Ranidae). Musuh alami lainnya sebagai parasitoid telur adalah Telenomus cyrus, dan T. triptus (Hymenoptera: Scelionidae), serta patogen Metarhizium anisopla.

Demikianlah informasi mengenai hama kepinding dan cara menanggulanginya. Semoga bermanfaat dan menambah wawasan Anda mengenai hama tanaman terkhususnya padi (Sang T). 

Selasa, 06 Desember 2016

Dirjen Hortikultura Kementan: Kamang Magek Seharusnya Sentra Bawang Merah Kabupaten Agam

Sukses Kecamatan Kamang Magek mengembangkan tanaman bawang merah pada penanaman perdana mendapat respon yang tinggi dari Kementerian Pertanian RI. Kedatangan Direktur Jenderal Hortikultura Kementerian Pertanian Dr. Ir. Spudnik Sujono Kamino, MM di Kecamatan Kamang Magek disambut dengan sukacita oleh Camat Kamang Magek dan UPT BP4K2P Kecamatan Kamang Magek.
Dirjen blusukan ke lahan pertanian bawang merah di Kecamatan Kamang Magek dalam rangka mensosialisasikan sekaligus memonitoring perkembangan bawang merah di Kabupaten Agam yang dinilanya cukup berhasil dengan penggunaan bibit Maja Cipanas. Dirjen yang turun bersama Direktur Sayuran dan Tanaman Obat, Direktur Perlindungan Tanaman didampingi Kepala Dinas Pertanian Sumatera Barat dan Kabid Hortikulutra Kabupaten Agam, Selasa tanggal 6 Desember 2016 selain berdialog dengan petani tentang program dan tindak lanjut pengembangan bawang merah juga turut mengapresiasi kualitas Jeruk Kamang yang dinilainya luar biasa. Tanpa basa-basi Dirjen turun menemui petani bawang merah dan Jeruk  di kelompoktani Manis Sejahtera, Nagari Kamang Hilia.
Di sela-sela menikmati buah Jeruk di lahan kelompok, Dirjen menyatakan kekagumannya dengan kondisi tanah di Kecamatan Kamang Magek yang mampu menampung segala jenis tanaman Hortikultura. “Seharusnya Kecamatan Kamang Magek ini cocok dijadikan sentra tanaman Hortikultura karena iklimnya sangat mendukung sehingga mampu mengangkat perekonomian masyarakat lebih tinggi lagi”, jelasnya.
Dirjen juga menawarkan Camat Kamang Magek seandainya Kamang Magek mampu menyediakan lahan satu hamparan seluas 100 Ha untuk penanaman Jeruk Kamang tentu hal ini akan semakin menarik. “Kita punya program dan anggaran, tentu hal ini akan sangat menggiurkan, tidak masalah juga tetapi akan lebih sangat cantik seandainya satu hamparan sehingga mampu kita sulap menjadi lahan Agrowisata”, pungkasnya.
Terkait tanaman cabe dan bawang merah yang saat ini menjadi primadona baru di Kabupaten Agam, Dirjen menekankan perluasan lahan tanam bawang dan satu hamparan. ”Berani gak, kalau tanaman bawang ini kita jadikan satu hamparan minimal 5 Ha satu hamparan. Pusatkan Kecamatan Kamang Magek sebagai sentra bawang merah di Kabupaten Agam”, tegasnya. Namun tentu teknik berbudidaya harus lebih ditingkatkan lagi, sehingga produktivitas baik kualitas maupun kuantitas dapat ditingkatkan. Saat ini produktivitas bawang merah Kecamatan Kamang Magek dinilai cukup bagus sehingga mampu menghasilkan 20 sampai 25 anakan setiap bijinya.
Dirjen secara khusus menyampaikan apresiasi terhadap perhatian dan kebijakan Bupati Agam yang dinilainya sangat perhatian terhadap perkembangan dunia pertanian di wilayahnya sehingga petani merasa diuntungkan. Apalagi Dirjen mendengar baru-baru ini Bupati menyediakan waktu secara khusus meninjau pengembangan tanaman hortikultura di Kabupaten Agam. Dirjen juga menjelaskan PR bersama bagi kita semua, bagaimana supaya petani cabe dan bawang seharusnya menikmati harga mahal komoditinya, namun yang terjadi justru para pengumpul dan pedagang yang selalu mengambil keuntungan.

Zulmarni, SP selaku Kabid Hortikultura Kabupaten Agam menjelaskan potensi pengembangan pertanian khususnya tanaman hortikultura di Kecamatan Kamang Magek umumnya adalah pemanfaatan lahan pekarangan seperempat hingga setengah hektar di belakang rumah petani. Hal ini disebabkan karena keterbatasan kepemilikan lahan, sehingga sukar mencetak lahan baru untuk pengembangan hortikulura. “Satu-satunya jalan adalah memaksimalkan setiap tegalan yang ada disamping dijadikan tanaman tumpang sari pada tanaman yang telah ada dan melakukan pergantian pola tanam pada lahan sawah petani dengan tanaman cabe maupun bawang”, tutupnya (Sang T).

Sabtu, 03 Desember 2016

Beternak Ayam Kampung Di Pekarangan

MARI BETERNAK AYAM KAMPUNG. Ayam kampung sudah dibudidayakan sejak jaman dahulu oleh masyarakat di Indonesia. Ayam kampung paling banyak dipelihara oleh masyarakat yang tinggal di daerah pedesaan dan daerah pinggiran kota. Kebanyakan dari mereka yang memelihara ayam kampung lebih kepada hobi semata, karena itu pemeliharaannya pun secukupnya saja sehingga ayam kampung banyak dibiarkan dan dilepaskan begitu saja di halaman rumah atau di sekitar kebun rumah.
Memelihara ayam kampung tidak terlalu sulit, bahkan untuk pakan ayam kampung sekalipun bisa diberikan sisa-sisa dari makanan manusia. Selama masih ada lahan pekarangan di sekitar rumahpun bisa dimanfaatkan untu memelihara ayam kampung.  Sistem pemeliharaan ayam kampung yang dilepaskan (diumbar) dihalaman merupakan cara memelihara ayam yang paling mudah dan sederhana karena kita tidak perlu terlalu pusing mengenai pakan ayam karena ayam sudah bisa memperoleh sendiri makanan yang dibutuhkannya dari halaman tersebut.
Namun cara yang paling mudah ini bukan tanpa masalah. Karena denan sistem seperti ini, ayam sangat mungkin sekali terserang penyakit yang ada di pekarangan atau lingkungan. Selain itu, ayam bisa saja dicuri atau dimakan oleh hewan lain. Untuk itu akan dipaparkan jenis halaman/ pekarangan yang baik untuk beternak ayam kampung dengan cara umbaran ini.
Pakan. Lingkungan yang baik untuk melakukan peternakan ayam kampung dengan cara umbaran adalah lingkungan atau halaman yang banyak menyediakan pakan (biji-bijian seralia, rumput, serangga, cacing, kodok kecil dan sebagainya) sepanjang hari. Namun jangan salah, ayam harus tetap diberikan pakan pokok untuk mempertahankan kesehatan dan produktifitas ayam. Ayam-ayam yang diumbar biasanya tidak pernah diberi pakan khusus karena diharapkan pakan diperoleh dari sekitar lahan umbaran, namun apabila ada modal, pemberian pakan sederhana di pagi hari sangat baik.
Air minum. Walaupun ayam berada di halaman, sebisa mungkin menyediakan tempat air bersih agar ayam bisa minum. Sebenarnya dengan sistem umbaran tidak perlu disediakan karena ayam akan mencari sendiri air minum sesuai dengan kebutuhannya, namun jika ayam dibiarkan meminum air selokan ditakutkan ayam akan tertular penyakit. 
Kandang ayam. Untuk kandangnya sendiri sebaiknya disediakan kandang dengan pintu yang lebar dan terbuka sehingga ayam bisa leluasa masuk ke dalam kandang. Ukurang kandang tergantung dari jumlah ayam. Kandang ayam sangat penting sebagai tempat berlindung ayam saat malam hari, yang paling penting adalah membiasakan ayam kampung tersebut untuk pulang ke kandang saat menjelang sore (Sang T).

Sumber: www.tokoternak.com

Kamang Magek Siap Menjadi Pemasok Utama Bawang Merah Kabupaten Agam


Kecamatan Kamang Magek sebagai salah satu kawasan Hinterland di Kabupaten Agam mempunyai potensi yang sangat luar biasa dalam pengembangan tanaman sayuran. Kecamatan Kamang Magek yang merupakan daerah lereng Bukit Barisan termasuk daerah dataran tinggi yang mempunyai iklim sejuk dengan curah hujan yang tinggi (2.042 mm/tahun).
Salah satu tanaman sayuran yang menjadi primadona baru di Kecamatan Kamang Magek saat ini adalah bawang merah (Allium ascalonicum). Bawang merah merupakan sayuran unggulan nasional yang belum banyak keragaman varietasnya. Bawang merah  dikenal sebagai sayuran yang sangat fluktuatif  harga maupun produksinya. Hal ini terjadi karena pasokan produksi yang tidak seimbang antara panen pada musimnya serta panen di luar musim. Salah satu diantaranya disebabkan tingginya intensitas serangan hama dan penyakit terutama bila penanaman dilakukan di luar musim.
Bawang merah merupakan Tanaman yang cocok dibudidayakan di dataran rendah dengan ketinggian 0 hingga 900 meter dari permukaan laut. Namun hal tersebut seolah tak berlaku di daerah Kecamatan Kamang Magek. Tanaman bawang merah mampu tumbuh subur dan sangat menjanjikan dalam peningkatan perekonomian masyarakat.
Alokasi pengembangan tanaman bawang merah di Kecamatan Kamang Magek oleh Dipertahornak Kabupaten Agam pada Tahun 2016 sebanyak 5 Ha mendapat respon yang sangat signifikan dari para petani. Secara swadaya petani mampu mengembangkan  penanaman tanaman bawang merah menjadi 10 Ha.  Produksi bawang merah di Kecamatan Kamang Magek mampu mencapai 14 - 15 Ton/Ha, melihat peningkatan hasil yang diperoleh serta waktu yang pendek (70-85 hari) membuat para petani mulai melirik sektor ini.
Bakhrizal, S.Sos selaku Kepala UPT BP4K2P Kecamatan Kamang Magek menyatakan para petani saat ini tergiur untuk berbudidaya bawang merah. Kecamatan Kamang Magek sangat potensial dalam pengembangan tanaman bawang merah. Total untuk Tahun 2017 sebanyak 16 kelompoktani dengan luas lahan 21,5 Ha siap untuk menjadikan tanaman bawang merah sebagai komoditas unggulan. Dilihat dari potensi lahan dan animo para petani jumlah tersebut dinilai masih kurang.  Setidaknya Kecamatan Kamang Magek mampu menyediakan 30 Ha  untuk pengembangan tanaman bawang merah. Peran serta penyuluh lapangan dalam memfasilitasi dan mempromosikan komoditi tersebut dinilai sangat vital, pungkas Bakhrizal.

Drs. Surya Wendri selaku Camat Kamang Magek mengapresiasi pengembangan tanaman bawang merah di Kecamatan Kamang Magek yang dinilai sangat berhasil membangkitkan gairah dan merubah pola pikir petani. Surya Wendri yakin Kecamatan Kamang Magek mampu menjadi pilot project tanaman bawang merah di Kabupaten Agam dan menjadi pemasok utama bawang merah untuk Kabupaten Agam khususnya dan Sumatera Barat umumnya. Ketersediaan bawang merah yang  melimpah di Kabupaten Agam diharapkan mampu menetralisir fluktuatif harga bawang merah yang dinilai tidak stabil (Sang T).

Kamis, 21 Juli 2016

Mengendalikan Hama Kepinding Tanah

Salam Tani!! Pada Blog ini saya  masih membahas hama tanaman padi. Tidak asing lagi bagi petani padi di Indonesia dengan hama ketupluk atau kepinding tanah. Hama yang berwarna hitam kadang ada yang agak kecoklatan yang hidupnya dipangkal batang padi ini mempunyai nama latinScotinophora coarctata. Serangga ini mudah dijumpai saat bulan purnama dimana cahaya sangat terang dimalam hari dengan bau yang sangat busuk/ langu. Biasanya juga bisa dijumpai saat beterbangan disekitar sorot/ cahaya  lampu jalan yang terang.
Dari pengamatan saya serangan hama kepinding tanah Scotinophora coarctata bisa terjadi pada fase vegetatif maupun generatif. Jika terjadi pada fase vegetatif akan berakibat berkurangnya jumlah anakan. Jika menyerang pada saat generatif atau pada saat bunting maka akan mengakibatkan malai padi pendek dan gabah menjadi hampa. Kepinding tanah/ketupluk menyerang dengan cara menghisap cairan pangkal batang tanaman padi pada . 

Biologi dan Morfalogi hama kepinding tanah/ ketupluk Scotinophora coarctata:
Imago/Serangga Dewasa
  • Warna coklat kehitaman dan bila terganggu berbau khas menyengat
  • Lama bertelur 12-17 hari setelah kawin.
  • Umur imago 4-7 bulan hal ini disebabkan oleh umur inang, makin tua tanaman serangga makin berkembang dengan baik
Telur
  • Bentuk telur lonjong, berwarna merah jambu kehijau-hijauan
  • Letak telur berkelompok pada pangkat rumpun padi
  • Stadium telur 4-7 hari.
Nimfa
  • Warna nimfa coklat kekuningan.
  • Tidak bersayap.
  • Stadium nimfa 20-30 hari.
Dinamika populasi
  • Serangga dewasa mampu hidup dan berkembangbiak selama 2 musim.
  • Waktu musim kemarau serangga dewasa dapat bertahan pada bongkahan tanah yang berumput.
  • Pada saat cuaca baik dewasa terbang ke pertanaman dalam jumlah besar (lebih menyukai keadaan basah dan lembab)
  • Serangga dewasa menyukai intensitas cahaya yang tinggi dan mudah ditangkap pada saat bulan purnama.
  • Tanaman inang : Panicum, jagung Sceleria, Scirphus dan padi liar.
  • Kepinding tanah menyerang pada bagian batang padi.
Pengelolaan
  • Menurut saya pembajakan tanah secara sempurna perlu segera  dilakukan setelah panen untuk mematikan telur, nimfa dan dewasa yang tinggal pada pangkal padi.
  • Selain itu pengeringan lahan sawah untuk menghambat perkembangan.
  • Sanitasi/ kebersihan lahan dan lingkungan dari tumbuhan inang rerumputan menurut saya juga perlu dilakukan 
  • Pengalaman saya penggunaan insektisida untuk mengendalikan hama ketupluk/ kepinding tanah ini perlu selektif karena tidak semua insektisida mampu mengendalikannya. Jika memang terpaksa harus menggunakan insektisida saya menyarankan gunakan insektisida daya racun pernafasan yang kuat seperti bahan aktif dari golongan piretroid sintetik. Contoh : bahan aktif alfa sipermetrin, delta metrin, sipermetrin dll
Musuh alami

  • Parasitoid telur : Scelionid
  • Predator telur ; Katak dan kadal
  • Predator telur,nimfa dan dewasa adalah kumbang Carabidae (Sang T).

Cara Pengendalian Hama Penggerek Batang Padi

Hama penggerek batang pada tanaman padi adalah salah satu hal yang meresahkan. Maka cara mengendalikan hama penggerek batang tanaman padi harus dapat dipahami agar mudah dilakukan. Karena jika tidak, maka hasil panen padi akan menurun.
Kehilangan hasil akibat serangan penggerek batang padi pada stadium vegetatif dapat dikompensasi dengan pembentukan anakan baru. Berdasarkan simulasi pada stadium vegetatif, tanaman masih sanggup mengkompensasi akibat kerusakan oleh penggerek batang padi sampai 30%. Serangan pada stadium generatif menyebabkan malai tampak putih dan hampa yang disebut beluk (whiteheads). Kerugian hasil yang disebabkan setiap persen gejala beluk berkisar 1-3% atau rata-rata 1.2%.
Di Indonesia telah di temukan enam jenis penggerek batang padi yang terdiri dari penggerek batang padi kuning Scirpophaga incertulas (Walker), penggerek batang padi putih Scirpophaga innotata (Walker), penggerek batang padi bergaris Chilo suppressalis (Walker), penggerek batang padi kepala hitam Chilo polychrysus Meyrick, penggerek batang padi berkilat Chilo auricilius Dudgeon (kelima spesies tersebut termasuk ordo Lepidoptera dan famili Pyralidae), dan penggerek batang padi merah jambu Sesamia inferens (Walker) (spesies ini termasuk ordo Lepidoptera dan famili Noctuidae).
Berikut cara pengendalian Hama Penggerek Batang Padi:
A.      Pada Daerah Serangan Endemik
1.      Pengaturan Pola Tanam
Ø  Tanam serentak untuk membatasi sumber makanan bagi penggerek batang padi.
Ø  Rotasi tanaman padi dengan tanaman bukan padi untuk memutus siklus hidup hama.
Ø  Pengaturan waktu tanam yaitu berdasarkan penerbangan ngengat atau populasi larva di tunggul padi. Tanam jangan bertepatan dengan puncak penerbangan ngengat. Tanam bisa dilakukan pada 15 hari sesudah puncak penerbangan ngengat generasi pertama dan atau 15 hari sesudah puncak penerbangan ngengat generasi berikutnya apabila generasi penggerek batang padi di lapangan overlap.
2.      Pengendalian Secara Mekanik dan Fisik
Ø  Cara mekanik dapat dilakukan dengan mengumpulkan kelompok telur penggerek batang padi di persemaian dan di pertanaman.
Ø  Menangkap ngengat dengan light trap (untuk luas 50 ha cukup 1 light trap).
Ø  Cara fisik yaitu dengan penyabitan tanaman serendah mungkin sampai permukaan tanah pada saat panen (disingkal). Usaha itu dapat pula diikuti penggenangan air setinggi 10 cm agar jerami atau pangkal jerami cepat membusuk sehingga larva atau pupa mati.
3.      Pengendalian Hayati
Ø  Pemanfaatan musuh alami parasitoid dengan melepas parasitoid telur seperti Trichogramma japonicum dengan dosis 20 pias/ha (1 pias = 2000-2500 telur terparasit) sejak awal pertanaman.
4.      Pengendalian Secara Kimiawi
Ø  Penggunaan insektisida dapat dilakukan bila sudah ditemukan 1 ekor ngengat pada light trap atau pertanaman, dan aplikasi insektisida sebaiknya dilakukan pada saat 4 hari setelah ditemukan 1 ekor ngengat pada light trap atau pertanaman tersebut.
Ø  Penggunaan insektisida butiran di persemaian dilakukan jika disekitar pertanaman ada lahan yang sedang atau menjelang panen pada satu hari sebelum tanam.
Ø  Pada pertanaman, insektisida butiran diberikan terutama pada stadium vegetatif dengan dosis 20 kg insektisida granule/ha. Pada stadium generatif aplikasi dengan insektisida yang disemprotkan (cair).
Ø  Insektisida butiran yang direkomendasikan adalah insektisida yang mengandung bahan aktif karbofuran.
Ø  Insektisida semprot (cair) yang direkomendasikan adalah insektisida yang mengandung bahan aktif spinetoram, klorantraniliprol, dan dimehipo.
Ø  Hal-hal yang harus diperhatikan dalam aplikasi insektisida adalah: keringkan pertanaman sebelum aplikasi, aplikasi saat air embun tidak ada yaitu sekitar jam 8 -11 atau dilanjutkan pada sore hari ketika angin sudah tidak kencang, tepat dosis, tepat jenis, dan tepat air pelarut (sekitar 350-500 liter air/ha).
5.      Pengendalian Preventif
Ø  Sebagai tindakan preventif dalam pengendalian penggerek batang padi, memantau fluktuasi populasi penggerek batang padi perlu dilakukan secara rutin. Untuk memantau fluktuasi populasi penggerek batang padi yang berasal dari migrasi dapat menggunakan light trap.
B.      Pada Daerah Serangan Sporadik
Ø  Cara pengendalian selain menggunakan insektisida yang dapat diterapkan sesuai dengan keadaan setempat.
Ø  Penyemprotan dengan insektisida
Ø  Apabila sudah ditemukan 1 ekor ngengat pada light trap atau pertanaman, dan aplikasi insektisida sebaiknya dilakukan pada saat 4 hari setelah ditemukan 1 ekor ngengat pada light trap atau pertanaman tersebut (Sang T).


Jumat, 13 Mei 2016

Benarkah Penyebab Robohnya Tanaman Padi Hanya Karena Faktor Hujan?

Menunggu padi pulang ke rumah sejak tanam 4-5 bulan sebelumnya adalah sesuatu yang sangat ditunggu petani. Di saat padi mulai menguning, harapan dan asa yang tinggi sangat membayang di wajah para petani. Terbayang sudah hutang yang akan dibayar, anak yang sedang sekolah, rumah yang harus direhab dan tentu saja zakat yang harus dikeluarkan bagi yang mencapai nisab zakat.
Seiring semakin menuanya padi dan mulai berisi, tanaman padi akan terlihat menunduk karena berat dari daun dan bulir padi. Angin dan hujan dapat mengakibatkan tanaman padi rebah. Musim tanam padi yang berada pada musim penghujan menjadi berkah dengan ketersediaan air tetapi di sisi lain ketika padi sudah mulai menua dan berisi akan rentan roboh terkena angin maupun hujan sehingga akan kehilangan potensi hasil panen. Tanaman padi yang roboh merupakan momok bagi petani karena mereka mengurangi hasil produksi hingga 80%.  
Harapan yang begitu tinggi dengan bayangan sejuta masalah yang akan terselesaikan harus ditunda melihat kondisi padi yang sudah rebah. Sebagai seorang penyuluh lapangan tentu kita ikut merasa bersedih, sebab keuntungan dan hasil petani tidak sesuai dengan harapan.
Yose Elfiranto, SST selaku petugas lapangan menilai ada beberapa alternatif mensikapi robohnya tanaman padi tersebut:

  • Tanaman padi yang roboh ditegakkan kembali dengan cara beberapa rumpun padi diikat hingga bisa berdiri. Langkah ini membutuhkan kerja keras, karena tidak mudah mengikat rumpun padi yang roboh semua, dan tidak ada jaminan tidak akan roboh kembali saat terjadi hujan lebat.
  • Memanen secara dini. Jika langkah ini yang diambil, petani akan mengalami kerugian yang lumayan besar. Hasil produksinya akan sangat jauh berkurang dibandingkan jika panen normal. Belum lagi pada kualitas beras yang dihasilkan. Biasanya panen yang dilakukan sebelum waktunya menyebabkan bulir padi belum terisi penuh dan beras menjadi pecah-pecah saat digiling.
Benarkah penyebab robohnya tanaman padi hanya karena faktor hujan? Yose melihat hujan bukan satu-satunya faktor penyebab. Jarak tanam juga mempengaruhi factor tersebut,  diperlebarnya jarak tanam antar tanaman dimaksudkan agar jumlah anakan padi lebih banyak. Dengan rumpun padi yang besar tersebut maka padi yang dihasilkan akan lebih banyak. yang akan berimbas pada kesejahteraan petani.
Beberapa cara yang sudah dilakukan adalah dengan mengikat tanaman padi menjadi sekelompok agar tidak mudah roboh. Tanaman padi yang sudah roboh akan terganggu proses transfer unsur hara di batang padi sehingga bulir padi tidak akan berkembang.
Berikut beberapa teknik yang dihimpun tentang penyebab padi mudah roboh:

  • Tanaman padi terlalu gemuk sehingga batang tanaman padi tidak kuat menopang daun dan malai padi yang tumbuh sangat lebat yang mengakibatkan apabila terkena angin sedikit akan mudah rebah.
  • Pangkal batang tanaman busuk yang disebabkan oleh penggenangan air yang terus-menerus tanpa adanya pengaturan pengairan.
Hal yang dilakukan agar padi tidak mudah Roboh:

  • Penanaman varietas yang tidak tinggi maupun jenis yang tahan air.
  • Mengurangi penggunaan pupuk dengan unsur N yang berlebih, semisal Urea karena pupuk jenis ini dapat mengakibatkan daun terlalu lebat dan tanaman terlalu gemuk. Gunakan juga pupuk ZA atau NPK karena pupuk ini bisa menguatkan batang tanaman padi.
  • Pola pengaturan pengairan, dengan kadang mengeringkan lahan pertanian jangan terus-terusan menggenangi tanaman padi karena bisa mengakibatkan batang mudah busuk.
  • Pemotongan pada daun bagian atas apabila pemupukan sudah terkontrol dan berimbang tetapi tanaman masih terlalu gemuk. Pengurangan daun kurang lebih 10-15cm pada saat umur tanaman 45-50 hst jangan lebih dari itu. Pemotongan ini bertujuan untuk mengurangi beban yang ditopang batang tanaman padi, agar nantinya saat terkena hujan batang kuat menopang (Sang T).