Begitulah
yang terjadi pada lahan sawah milik para petani di Jorong Bansa Nagari Kamang
Mudiak saat saya dan rekan-rekan penyuluh pertanian mengunjungi lokasi pada
Senin tanggal 16 November 2015. Lahan yang menjadi Demplot pertanaman Jajar
Legowo dengan pola tanam 4 : 1 dan memakai varietas Cisokan tersebut mengalami
serangan Blast seluas 20 Ha di saat padi sudah mulai menguning dan menghitung
minggu untuk panen.
Berikut
beberapa kiat yang saya cari di internet untuk mengendalikan penyakit blast:
1. Waktu tanam yang
tepat, pengaturan waktu tanam untuk menghindari banyak embun pada saat
pembungaan atau pembentukan malai. Embun yang banyak saat awal bunga baik
malam, siang atau pagi hari memberi peluang timbulnya serangan busuk leher.
2. Penggunaan
varietas tahan, merupakan cara yang efektif, murah dan ramah lingkungan karena
penggunaan varietas tahan hanya memerlukan kesesuaian agroekosistem padi dengan
sebaran ras yang dominan.
3. Pergiliran
varietas atau rotasi tanaman, dilakukan setiap musim atau dua musim sekali.
Rotasi tanaman dilakukan setelah panen padi dengan mengganti menanam palawija
atau sayuran yang sesuai dengan topografi lingkungan.
4.
Benih sehat dan
bersertifikat
5. Perlakuan benih,
dilakukan dengan menggunakan fungisida sistemik dimana benih direndam dalam
larutan fungisida selama 24 jam dan dikering anginkan sampai benih ditanam di
lapangan.
6.
Pemakaian jerami
sebagai kompos, patogen blas dapat berthan pada sisa tanaman padi atau jerami
dan biji dari persemaian padi sebelumnya namun patogen blas akan mati karena
jerami yang ditanam sebagai kompos akan terjadi dekomposisi sehingga suhu akan
naik selama proses dekomposisi berlangsung.
7.
Sanitasi
lingkungan, bebas dari sisa tanaman atau inang yang sakit.
8. Pemupukan
berimbang sesuai dosis anjuran, tidak dianjurkan penggunaan nitrogen dalam
bentuk urea secara berlebihan karena dosis pupuk nitrogen berkorelasi positif
terhadap intensitas penyakit blas.
9.
Penyemprotan
tanaman, dengan aplikasi fungisida atau pun pestisida nabati (Sang T).



