Senin, 16 November 2015

Penyakit Blast Duka Petani Kamang Mudiak

Panen merupakan sesuatu hal yang paling penting dan sangat ditunggu oleh para petani.. Begitu besar harapan petani terhadap panen tersebut sehingga segala hal akan dilakukan petani untuk mempersiapkan pelaksanaan panen. Namun apa jadinya setelah hasil yang ditunggu-tunggu hanya menghitung minggu ternyata terjadi kegagalan panen disebabkan serangan penyakit? Saya tidak dapat membayangkan raut wajah petani yang menatap sedih kepada keluarganya yang menunggu 4-5 bulan karena keluarga saya juga adalah petani. Segala harapan yang membumbung tinggi musnah seketika. 
Begitulah yang terjadi pada lahan sawah milik para petani di Jorong Bansa Nagari Kamang Mudiak saat saya dan rekan-rekan penyuluh pertanian mengunjungi lokasi pada Senin tanggal 16 November 2015. Lahan yang menjadi Demplot pertanaman Jajar Legowo dengan pola tanam 4 : 1 dan memakai varietas Cisokan tersebut mengalami serangan Blast seluas 20 Ha di saat padi sudah mulai menguning dan menghitung minggu untuk panen.
Namun yang menjadi pertanyaan dalam kepala saya adalah serangan Blast tersebut hanya terjadi pada padi varietas Cisokan dan tidak menyerang padi varietas lokal lain seperti varietas Kuriak Kusuik dan varietas padi Putih. Erizal Sutan Bareno selaku Ketua kelompok Sakato Bansa mengaku heran dengan hal tersebut, padahal petani sudah melakukan pola tanam sesuai anjuran penyuluh pertanian mulai dari perlakuan bibit, pemupukan sampai penyiangan.
Megi Martavia selaku penyuluh pertanian mencoba menerangkan bahwa penyakit Blast tersebut dapat disebabkan oleh beberapa faktor, mulai dari penyakit bawaan dari lokasi asal, maupun pemupukan yang tidak berimbang. Gejala penyakit blast dapat muncul pada daun, batang, malai, bulir padi. Bercak pada daun (leaf blast) berbentuk belah ketupat, awalnya hijau keabu-abuan kemudian putih dan akhirnya abu-abu dengan bagian tepi berwarna coklat atau coklat kemerahan. Bentuk dan warna bercak bervariasi tergantung keadaan lingkungan, umur bercak, ketahanan padi. Pada gejala busuk leher (neck blast) tangkai malai busuk dan patah. Pada malai mengalami hampa karena penyakit terjadi sebelum masa pengisian bulir. Busuk juga dapat terjadi pada seludang daun dan bercak-bercak kecil pada bulir padi.
Berikut beberapa kiat yang saya cari di internet untuk mengendalikan penyakit blast:
1.     Waktu tanam yang tepat, pengaturan waktu tanam untuk menghindari banyak embun pada saat pembungaan atau pembentukan malai. Embun yang banyak saat awal bunga baik malam, siang atau pagi hari memberi peluang timbulnya serangan busuk leher.
2.    Penggunaan varietas tahan, merupakan cara yang efektif, murah dan ramah lingkungan karena penggunaan varietas tahan hanya memerlukan kesesuaian agroekosistem padi dengan sebaran ras yang dominan.
3.    Pergiliran varietas atau rotasi tanaman, dilakukan setiap musim atau dua musim sekali. Rotasi tanaman dilakukan setelah panen padi dengan mengganti menanam palawija atau sayuran yang sesuai dengan topografi lingkungan.
4.      Benih sehat dan bersertifikat
5.     Perlakuan benih, dilakukan dengan menggunakan fungisida sistemik dimana benih direndam dalam larutan fungisida selama 24 jam dan dikering anginkan sampai benih ditanam di lapangan.
6.      Pemakaian jerami sebagai kompos, patogen blas dapat berthan pada sisa tanaman padi atau jerami dan biji dari persemaian padi sebelumnya namun patogen blas akan mati karena jerami yang ditanam sebagai kompos akan terjadi dekomposisi sehingga suhu akan naik selama proses dekomposisi berlangsung.
7.      Sanitasi lingkungan, bebas dari sisa tanaman atau inang yang sakit.
8.    Pemupukan berimbang sesuai dosis anjuran, tidak dianjurkan penggunaan nitrogen dalam bentuk urea secara berlebihan karena dosis pupuk nitrogen berkorelasi positif terhadap intensitas penyakit blas.
9.      Penyemprotan tanaman, dengan aplikasi fungisida atau pun pestisida nabati (Sang T).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar