Menunggu padi pulang ke rumah
sejak tanam 4-5 bulan sebelumnya adalah sesuatu yang sangat ditunggu petani. Di
saat padi mulai menguning, harapan dan asa yang tinggi sangat membayang di
wajah para petani. Terbayang sudah hutang yang akan dibayar, anak yang sedang
sekolah, rumah yang harus direhab dan tentu saja zakat yang harus dikeluarkan
bagi yang mencapai nisab zakat.
Seiring semakin menuanya padi dan
mulai berisi, tanaman padi akan terlihat menunduk karena berat dari daun dan
bulir padi. Angin dan hujan dapat mengakibatkan tanaman padi rebah. Musim tanam
padi yang berada pada musim penghujan menjadi berkah dengan ketersediaan air
tetapi di sisi lain ketika padi sudah mulai menua dan berisi akan rentan roboh
terkena angin maupun hujan sehingga akan kehilangan potensi hasil panen. Tanaman
padi yang roboh merupakan momok bagi petani karena mereka mengurangi hasil produksi
hingga 80%.
Harapan yang begitu tinggi dengan
bayangan sejuta masalah yang akan terselesaikan harus ditunda melihat kondisi
padi yang sudah rebah. Sebagai seorang penyuluh lapangan tentu kita ikut merasa
bersedih, sebab keuntungan dan hasil petani tidak sesuai dengan harapan.
Yose Elfiranto, SST selaku
petugas lapangan menilai ada beberapa alternatif mensikapi robohnya tanaman
padi tersebut:
- Tanaman padi yang roboh ditegakkan kembali dengan cara beberapa rumpun padi diikat hingga bisa berdiri. Langkah ini membutuhkan kerja keras, karena tidak mudah mengikat rumpun padi yang roboh semua, dan tidak ada jaminan tidak akan roboh kembali saat terjadi hujan lebat.
- Memanen secara dini. Jika langkah ini yang diambil, petani akan mengalami kerugian yang lumayan besar. Hasil produksinya akan sangat jauh berkurang dibandingkan jika panen normal. Belum lagi pada kualitas beras yang dihasilkan. Biasanya panen yang dilakukan sebelum waktunya menyebabkan bulir padi belum terisi penuh dan beras menjadi pecah-pecah saat digiling.
Benarkah penyebab robohnya
tanaman padi hanya karena faktor hujan? Yose melihat hujan bukan satu-satunya
faktor penyebab. Jarak tanam juga mempengaruhi factor tersebut, diperlebarnya jarak tanam antar tanaman dimaksudkan
agar jumlah anakan padi lebih banyak. Dengan rumpun padi yang besar tersebut
maka padi yang dihasilkan akan lebih banyak. yang akan berimbas pada
kesejahteraan petani.
Beberapa cara yang sudah
dilakukan adalah dengan mengikat tanaman padi menjadi sekelompok agar tidak
mudah roboh. Tanaman padi yang sudah roboh akan terganggu proses transfer unsur
hara di batang padi sehingga bulir padi tidak akan berkembang.
Berikut beberapa teknik yang
dihimpun tentang penyebab padi mudah roboh:
- Tanaman padi terlalu gemuk sehingga batang tanaman padi tidak kuat menopang daun dan malai padi yang tumbuh sangat lebat yang mengakibatkan apabila terkena angin sedikit akan mudah rebah.
- Pangkal batang tanaman busuk yang disebabkan oleh penggenangan air yang terus-menerus tanpa adanya pengaturan pengairan.
Hal yang dilakukan agar padi
tidak mudah Roboh:
- Penanaman varietas yang tidak tinggi maupun jenis yang tahan air.
- Mengurangi penggunaan pupuk dengan unsur N yang berlebih, semisal Urea karena pupuk jenis ini dapat mengakibatkan daun terlalu lebat dan tanaman terlalu gemuk. Gunakan juga pupuk ZA atau NPK karena pupuk ini bisa menguatkan batang tanaman padi.
- Pola pengaturan pengairan, dengan kadang mengeringkan lahan pertanian jangan terus-terusan menggenangi tanaman padi karena bisa mengakibatkan batang mudah busuk.
- Pemotongan pada daun bagian atas apabila pemupukan sudah terkontrol dan berimbang tetapi tanaman masih terlalu gemuk. Pengurangan daun kurang lebih 10-15cm pada saat umur tanaman 45-50 hst jangan lebih dari itu. Pemotongan ini bertujuan untuk mengurangi beban yang ditopang batang tanaman padi, agar nantinya saat terkena hujan batang kuat menopang (Sang T).






