Rabu, 04 Mei 2016

Teknik Sambung Pucuk Pada Kakao "Cirik" Musang di Kamang Magek

Pada umumnya Pengembangan tanaman  yang dilakukan oleh petani secara generatif (dari biji), sehingga menyebabkan fase vegetatif tanaman lebih panjang (sekitar 7-10 tahun lebih) baru memasuki masa produksi. Hal tersebut merupakan salah satu kendala dalam produktivitas dan mutu tanaman yang dihasilkan. Namun dengan kemajuan teknologi, kendala tersebut dapat diatasi dengan menggunakan cara sambung pucuk. Sambung pucuk merupakan perbanyakan tanaman gabungan antara perbanyakan secara generatif (dari persemaian biji) dengan salah satu bagian vegetatif (cabang/ranting) yang berasal dari tanaman lain.
Sebagaimana usaha perkebunan Kakao di Kecamatan lain, begitu juga dengan usaha perkebunan Kakao di Kecamatan Kamang Magek. Areal tanam tersebar secara merata di lahan para petani. Namun tanaman Kakao yang dipelihara sekarang umumnya adalah tanaman tua yang sudah tidak berproduksi secara maksimal lagi karena umur tanam yang sudah lebih dari 10 tahun bahkan sampai 35 tahun. Dapat dimaklumi usaha perkebunan Kakao di Nagari Kamang Hilir khususnya adalah suatu bentuk pelarian usaha yang disebabkan trauma petani terhadap virus CVPD yang menghantam tanaman Jeruk (Limau) Kamang pertengahan dekade 80-an. Lahan-lahan bekas tanaman Limau tersebut ditanami dengan Kakao varietas Lokal yang menghasilkan hingga saat sekarang. Saya lebih suka menyebut varietas Kakao Cirik (Kotoran) Musang... Mengapa?? Karena umumnya bibit Kakao yang ditanam petani adalah bibit Kakao yang tumbuh secara liar setelah dimakan oleh binatang yang bernama Musang.
Apakah itu suatu tuduhan saya terhadap petani Kakao di Kamang? Silakan tanya secara person kepada pelaku utama. Namun tidak sedikit yang benar-benar melakukan budidaya Kakao secara teknis dengan bimbingan penyuluh lapang. H. Taufik, sebagai salah satu pakar penggerak tanaman Kakao di Kamang Hilir merupakan contoh nyata bahwa tanaman Kakao cukup mengharumkan Nagari Kamang setelah era kejayaan Limau sirna.  Bernaung di bawah bendera kelompoktani KPC Kami Saiyo yang bersekretariat di Parumahan, H. Taufik sukses dan dianggap sebagai penyuluh Kakao Kecamatan Kamang Magek. Umur tanaman Kakao H. Taufik saat ini sudah seumuran dengan saya yaitu 34 tahunan. Namun dengan teknologi yang dianjurkan penyuluh, sekarang ini secara berangsur-angsur tanaman Kakao di Kecamatan Kamang Magek mulai direhabilitasi secara keseluruhan dengan teknik Sambung Pucuk maupun Sambung Samping.
Secara teknis saya tidak menguasai ilmu per-Kakaoan, namun dari beberapa literatur dan sumber resmi dapat dikemukakan teknik peremajaan tanaman Kakao di Kecamatan Kamang Magek.
Kegiatan sambung pucuk kerap digunakan dengan menggabungkan batang bawah dan batang atas. Batang bawah diharapkan menjadi batang yang tahan terhadap patogen tanah dan kokoh sedangkan batang atas merupakan bagian yang memilki karakter produksi yang diinginkan.Batang bawah biasanya dipakai dari tanaman yang tumbuh dari biji sehingga perakarannya lebih kuat. Akan tetapi, batang bawah yang berasal dari biji memiliki karakter yang berbeda (segregasi). Teknologi perbanyakan mengusahakan batang bawah juga diperoleh seragam dari hasil stek.
Perpaduan dari bagian tanaman yang disatukan akan berkembang membentuk tanaman jenis baru, dengan kelebihan yang dimilikinya antara lain : keunggulan dari segi perakaran,  masa berbuah lebih cepat, ukuran tanaman  yang lebih pendek,memiliki sifat genetis yang berasal dari induknya misalnya ukuran buah, daging yang tebal dan rasa manis sertaterhadap penyakit. Bahan yang dibutuhkan dalam proses penyambungan ini adalah bagian tanaman yang akan di sambung atau disebut batang atas (entres)bisa tunas pucuk atau tunas samping.bagian bawah yang menerima sambungan di sebut Batang Bawah(understock).cara mendapatkan batang bawang dengan penyemaian biji tanaman lokal yg memilki perakaran yg baik dan tahan terhadap serangan busuk akar.
Teknik sambung celah dengan entres yang mempunyai 1 – 3 mata tunas, tingkat keberhasilan sambungan mencapai 90%.  Batang bawah siap untuk disambung bila diameter telah berukuran 0,6 cm atau lebih.  Potong pucuknya pada bagian yang berwarna kecoklatan dan biarkan helaian daun sebelah bawah tetap berada pada batang bawah. Kemudian tepat ditengah bekas potongan dibelah dengan pisau tajam sedalam 2-3 cm.
Entris berasal dari pohon induk yang sehat, yang sedang dorman sepanjang 10-15 cm dari, kemudian potong daunnya.  Sayat bagian pangkal entris pada kedua belah sisinya sepanjang 2 – 3 cm membentuk baji dan sisipkan bagian baji dari entris kedalam celah batang bawah + ikat dg tali plastik, sungkup dengan kantong  plastik transparan agar tetap lembab dan tempatkan di bawah naungan.  Sungkup plastik dibuka apabila mata tunas pada entris telah pecah, lebih kurang umur 1 bulan.
Alat-alat yang dibutuhkan gunting stek, pisau stek/cutter, tali plastik.
Langkah – langkah penyambungan:
  • Memilih batang bawah yang diameternya kurang lebih sama dengan batang atas.potong batang bawah kurang lebih 20 – 25 cm dari permukaan tanah atau sekitar 3 cm dari bagian hipokotil.kemudian batang bawah di belah sekitar 2-2,5 cm.
  • Batang atas yg sudah disiapkan buang daunnya, kemudian sayat kedua sisi pangkal cabang sepanjang2- 2,5 cm, sehingga bentuk seperti mata kampak.
  • Selanjutnya batang atas di masukkan kedalam belahan batang bawah.
  • Pengikatan atau pembalutan menggunakan sealtip(isolasi paralon) atau bisa juga menggunakan tali yang terbuat dari plastik es. 
  • Tujuan penyungkupan adalah untuk menjaga kelembapan agar tetap tinggidan mengurangi penguapan di sekitar sambungan.Tempatkan tanaman tang sudah tersambung di tempah yang teduh atau di beri naungan agar terhindar dari panas matahari langsung.
  • Proses selanjutnya tinggal perawatan bibit sampai siap di tanam di kebun,sekitar 3-6 bulan kemudian. 
Teknologi ini bisa dicoba dan diterapkan pada tanaman buah yang berbatang keras lain seperti mangga, durian, alpukat dll (Sang T).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar