Kecamatan
Kamang Magek sebagai salah satu kawasan Hinterland di Kabupaten Agam mempunyai
potensi peternakan yang mampu menopang Kabupaten Agam dalam swasembada daging
sapi dan kerbau. Teori ini dapat terwujud jika diukur dengan parameter
ketersediaan Hijauan dan populasi ternak. Namun hal ini justru hanya menjadi
angan belaka seandainya potensi yang ada tidak mampu dikelola pelaku utama.
Nurhasiswan,
selaku petugas peternakan Dinas Pertanian Kabupaten Agam menyayangkan lambannya
perkembangan usaha peternakan di Nagari Kamang Mudiak, Kecamatan Kamang Magek.
Salah satu penyebab usaha peternakan di Kamang Mudiak kurang berkembang adalah
manajemen pengelolaan yang masih tradisional. Hal itu disampaikan oleh
Nurhasiswan, saat melaksanakan penyuluhan pada Kelompoktani Hulu Aia, Jumat
tanggal 11 Mei 2018 yang didampingi oleh Yose Elfiranto, SST dan Riswandi, SST
selaku penyuluh peternakan.
Pengelolaan
yang masih tradisional itu diakibatkan oleh paradigma peternak yang memandang
bahwa peternakan merupakan usaha sampingan atau sekadar investasi jangka
pendek. Manajemen pengelolaan yang dilaksanakan selama ini belum
mempunyai rencana untuk mengembangkan peternakan, misalnya pengembangbiakan,
nutrisi makanan, dan pengetahuan peternak.
“Jangan
samakan lagi usaha beternak jaman 80-an dengan usaha peternakan sekarang.
Paradigma telah berubah, peternak harus mampu jemput bola, rancang usaha
sendiri, rencanakan skala usaha dan baru ajukan bantuan seandainya diperlukan”,
tutur Nurhasiswan.
Pertemuan
yang dihadiri sebanyak 35 orang peternak tersebut, sepakat akan melaksanakan
pelatihan pembuatan pakan ternak dengan bahan baku jerami dan kulit Kakao dan
melaksanakan studi banding ke lokasi peternakan yang telah maju. Hal ini
didukung oleh ketersediaan limbah kulit Kakao yang sangat melimpah pada
kelompok yang selama ini selalu menjadi sampah buangan. Anwar, S.Ag Sutan
Majolelo selaku Ketua kelompoktani Hulu Aia berharap dengan adanya penyuluhan
ini mampu merubah paradigma peternak dan membangkitkan kembali gairah peternak
untuk mampu meningkatkan usaha mereka dari sistem tradisional kepada sistem
peternakan yang berorientasi bisnis (Sang T).

Tidak ada komentar:
Posting Komentar