Kamis, 08 Desember 2016

Walang Sangit

Apa itu walang sangit? Walang sangit (Leptcorisa oratorius) adalah serangga pengganggu atau hama yang sering merusak tanaman budidaya. Hama ini terdapat dan merusak pada hampir semua jenis tanaman. Namun dari sekian banyak jenis tanaman, yang paling disukai hama serangga ini adalah tanaman padi. Walang sangit memiliki bau yang khas dan sangat menyengat, karena baunya ini maka disebut walang sangit. Hama walang sangit akan mengeluarkan aroma khasnya jika ia dalam bahaya, aroma menyengat tersebut merupakan bentuk pertahanan diri dari ancaman predator. Di setiap daerah di Indonesia, hama walang sangit memiliki sebutan yang beragam, misalnya masyarakat Sunda menyebut dengan nama kungkang, masyarakat Sumatera menyebut dengan nama pianggang, masyarakat madura menyebut dengan nama tenang dan lain sebagainya. Pada tanaman padi walang sangit merupakan hama utama yang berbahaya dan sangat merusak. Walang sangit menyerang tanaman padi dengan cara menghisap cairan tangkai bunga serta bulir padi pada fase pengisian bulir dan pemasakan bulir sehingga pengisian bulir padi tidak sempurna, bahkan seringkali menyebabkan bulir padi hampa. Hama walang sangit dianggap hama penting yang berbahaya karena dapat mengakibatkan menurunnya produksi padi sekaligus menurunkan kualitas gabah. Tanaman padi yang terserang hama ini akan menghasilkan beras yang berkualitas buruk, beras yang dihasilkan akan mengapur dan berubah warna. Serangan hama walang sangit terjadi ketika tanaman padi memasuki fase generatif (pembungaan) sampai fase matang susu. Pada serangan hebat, walang sangit dapat menyebabkan kehilangan hasil antara 50% hingga 80%.
Perilaku dan Cara Hidup WALANG SANGIT
Satu ekor hama walang sangit betina dewasa dapat menghasilkan telur lebih dari 200 butir, telur-telur tersebut biasanya diletakkan pada bagian ujung (atas) daun tanaman padi atau daun bendera. Lama stadia telur walang sangit adalah 7 hari. Telur yang telah menetas dan menjadi nimfa akan bergerak ke malai untuk mencari bulir padi yang sedang stadia masak susu. Sedangkan bulir padi yang sudah keras tidak disukai. Nimfa walang sangit berwarna hijau dan lama-kelamaan berangsur-angsur berubah warna menjadi coklat. Nimfa ini akan mengalami ganti kulit hingga 5 kali. Nimfa walang sangit terus bergerak dari satu bulir ke bulir padi yang lain untuk dimakannya. Pada siang hari yang panas, nimfa dan walang sangit dewasa tidak begitu aktif dan bersembunyi dibawah kanopi tanaman. Serangga dewasa pada pagi hari aktif terbang dari rumpun ke rumpun sedangkan penerbangan yang relatif jauh terjadi pada sore atau malam hari.
Cara Pengendalian Walang Sangit
Pengendalian hama walang sangit sebaiknya dilakukan secara terpadu, yaitu dengan menerapkan berbagai teknik pengendalian. Pengendalian hama walang sangit berikut ini dapat diterapkan untuk menekan perkembangannya dan meminimalisir kerugian akibat rusaknya bulir padi. Berikut ini 4 cara pengendalian hama walang sangit pada tanaman padi ;
1.       Pengendalian Walang sangit dengan Melakukan Sanitasi Lingkungan
Sanitasi lingkungan dengan membersihkan areal pertanaman padi terbukti mampu menekan serangan hama walang sangit dan mencegah kerugian. Pembersihan areal tanaman padi dari gulma dan rerumputan sebaiknya dilakukan sejak sebelum penanaman hingga masa panen. Tanaman inang hama walang sangit sangat banyak, yaitu semua jenis rerumputan. Oleh karenanya, pembersihan gulma dilakukan sesering mungkin supaya tidak ada tanaman inang yang dapat dimanfaatkan walang sangit untuk bertahan hidup dan berkembang biak.
2.       Pengendalian Walang sangit dengan Kultur Teknis
Salah satu cara pengendalian walang sangit secara kultur teknis adalah dengan menanam padi secara serempak dalam satu hamparan lahan yang luas. Selain itu pemupukan harus dilakukan secara merata supaya tanaman padi tumbuh seragam sehingga jumlah generasi perkembangan hama ini semakin sedikit. Perlu diingat bahwa hingga saat ini belum ada varietas padi yang tahan terhadap hama walang sangit. Untuk itu penanaman serempak sangat dianjurkan karena telah terbukti menekan jumlah populasi hama walang sangit. Selisih waktu tanam dalam satu hamparan lahan tidak boleh lebih dari 2,5 bulan. Semakin kecil selisih waktu tanam akan semakin baik,  sebab semakin serempak waktu tanam padi akan semakin sedikit populasi walang sangit pada hamparan tersebut.
3.        Pengendalian Walang sangit Secara Biologi
Pengendalian biologi adalah pengendalian yang dilakukan dengan agens hayati, yaitu dengan memanfaatkan parasitoid dan jamur. Salah satu agens hayati yang dapat digunakan untuk menekan perkembangan walang sangit adalah  jamur Beauviria bassiana dan Metharizum sp. Jamur Beauviria bassiana ini menyerang walang sangit pada stadia nimpa dan dewasa. Jamur ini menyerang kulit serangga sehingga terinfeksi membentuk lapisan putih pada serangga hama dan mengakibatkan kematian. Jamur Beauviria bassiana ini telah tersedia di lapangan yaitu pada kios-kios pertanian dengan merk dagang Agens Hayati ” Bive-TM”. Walang sangit tertarik oleh senyawa (bebauan) yang dikandung tanaman Lycopodium sp dan Ceratophylum sp.
4.       Pengendalian Walang sangit dengan Perangkap
Hama walang sangit sangat tertarik pada bau busuk atau bau bangkai. Hal ini bisa dimanfaatkan untuk mengendalikan walang sangit menggunakan perangkap kemudian memusnahkannya. Untuk membuat perangkap walang sangit bisa menggunakkan bangkai kepiting, cuyu, keong mas, rajungan, ikan, kotoran ayam atau daging busuk. Caranya cukup mudah, yaitu hanya dengan meletakkan bangkai pada tonggak kayu ditepi sawah. Hama walang sangit akan tertarik untuk menghisap cairan bangkai tersebut, setelah terkumpul walang sangit bisa dimusnahkan. Supaya efektif, perangkap sebaiknya dipasang ketika tanaman padi memasuki fase berbunga sampai masak susu.
5.       Pengendalian Walang sangit Secara Kimiawi
Pengendalian walang sangit secara kimiawi adalah pengendalian yang dilakukan dengan penyemprotan insektisida kimia. Pengendalian menggunakan insektisida kimia dapat dilakukan jika populasi hama walang sangit berada pada ambang kendali yaitu 6 ekor / m2. Penyemprotan insektisida sebaiknya dilakukan ketika hama walang sangit aktif, yaitu pada pagi hari dan sore hari. Penyemprotan dilakukan menjelang tanaman padi memasuki stadia berbunga dan setelah memasuki stadia masak susu. Banyak jenis insektisida yang dapat digunakan untuk mengendalikan walang sangit, misalnya insektisida yang berbahan aktif fipronil, MIPC, BPMC, propoksur atau metolkarb. Hindari menggunakan insektisida yang berbentuk granul/butiran seperti karbofuran, karbofuran sangat berbahaya bagi lingkungan dan manusia.

Demikian “Cara Mengendalikan Hama Walang Sangit“. Semoga bermanfaat…
(Sang T)

Pengendalian Kepinding tanah

Hama adalah salah satu masalah besar bagi petani. Untuk itu perlunya seorang petani mengenali dan memahami dari tiap jenis-jenis hama yang sering menyerang dan memperburuk tumbuh kembang tanaman. Salah satu jenis hama yang sering menyerang tanaman padi adalah serangga kepinding tanah.
Sebelum melangkah kepada cara menanggulangi serangga kepinding tanah tersebut, terlebih dahulu kenalilah jenis serangga tersebut. Serangga kepinding tanah termasuk jenis kepik berwarna hitam kusam dengan panjang 7–10 mm dan lebar 4 mm. Tanaman inang terdiri dari padi, jagung dan tumbuh-tumbuhan golongan rumput-rumputan (graminae). Kepadatan populasi kepinding tanah sangat berpengaruh terhadap besarnya serangan hama tersebut pada tanaman padi. Infestasi awal kepinding tanah pada tanaman yang lebih muda menimbulkan kerusakan tinggi. Nimfa dan imago menghisap cairan tanaman pada bagian batang dan mengakibatkan tanaman menjadi kerdil dengan daun-daun yang berwarna coklat kemerahan atau kuning. Serangan kepinding tanah pada awal musim menyebabkan pengurangan jumlah anakan dan tanaman menjadi kerdil. Kepinding tanah yang menyerang malai mengakibatkan malai tidak berkembang sempurna dan bulir kosong. Pada populasi tinggi, dapat menyebabkan pertanaman mati, diawali dengan perubahan warna kuning kemerahan dan akhirnya menjadi coklat. Semakin awal infestasi semakin berkurang produksi yang dihasilkan. Penurunan hasil padi pada infestasi stadia anakan (30 hst) pada kepadatan 25–75 ekor per rumpun hasilnya akan berkurangantara 51–71%. Sedang jika infetasi pada stadia tanaman generatif, padakepadatan 25–75 ekor per rumpun hasilnya akan berkurang antara 37–48%. Pada serangan berat dapat menurunkan hasil 60 sampai 80%.
Pengendalian hama kepinding tanah:
  1. Menggunakan miko insektisida berupa cendawan Beauveria bassiana yang diaplikasikan seperti insektisida kimia karena mampu menekan populasi hingga 30%.
  2. Kultur teknis dengan cara pengolahan tanah yang baik, pengaturan air padatanaman padi (intermitten), penyiangan atau pengendalian gulma dan sanitasi lingkungan (gulma dan rerumputan) terutama pada galengan dan tanggul saluran irrigasi, atau pinggiran jalan.
  3. Menggunakan musuh alami seperti parasitoid dan predator. Mengingat pentingnya peran kepinding tanah pada pertanaman padi dan sulitnya pengendalian, maka untuk dapat menentukan strategi pengendalian yang lebih tepat perlu diketahui perkembangan populasinya dan jenis-jenis musuh alami yang potensial untuk mengendalikan hama tersebut.
  4. Secara kimia dengan insektisida seperti Fastac 15 EC, Atabron 50 EC, Matador25 EC dan regent 50 SC , dengan volume larutan 400-500 lt/ha. Namun, penggunaan insektisida sintetik secara tidak bijaksana dan berlebihan dapat menimbulkan beberapa masalah seperti pencemaran lingkungan, hama menjadi resistensi dan terjadi resurjensi hama, serta terbunuhnya serangga yang bermanfaat (Oka 1995). Hama kepinding tanah sangat sulit dikendalikan karena bersembunyi di pangkal batang tanaman padi. Meski disemprot dengan insektisida tetap tidak efektif, karena semprotan tidak dapat menjangkau lokasi persembunyian hama tersebut. Ketika disemprot saat sawah dikeringkan, hama tersebut tetap tidak mati karena bersembunyi di pangkal batang padi, sehingga penyemprotan harus diulangi dan 3 hal ini dapat menyebabkan terbunuhnya serangga bermanfaat yang ada di pertanaman padi akibat penyemprotan insektisida terlalu intensif.
  5. Secara fisik dan mekanis dengan menggunakan lampu perangkap dan pelapasan bebek/itik disawah.

Musuh alami 
Musuh alami kepinding tanah antara lain:
  • Parasitoid telur : Scelionid
  • Predator telur : Katak dan kadal
  • Predator telur, nimfa dan dewasa adalah kumbang Carabidae
  • Musuh alami yang dapat ditemukan di pertanaman padi yang dapat berperan sebagai predator kepinding tanah di antaranya adalah Agonium daimio (Coleoptera: Carabidae), Stenonabis tagalicus (Hemiptera: Nabidae), Rana sp. (Ranidae). Musuh alami lainnya sebagai parasitoid telur adalah Telenomus cyrus, dan T. triptus (Hymenoptera: Scelionidae), serta patogen Metarhizium anisopla.

Demikianlah informasi mengenai hama kepinding dan cara menanggulanginya. Semoga bermanfaat dan menambah wawasan Anda mengenai hama tanaman terkhususnya padi (Sang T). 

Selasa, 06 Desember 2016

Dirjen Hortikultura Kementan: Kamang Magek Seharusnya Sentra Bawang Merah Kabupaten Agam

Sukses Kecamatan Kamang Magek mengembangkan tanaman bawang merah pada penanaman perdana mendapat respon yang tinggi dari Kementerian Pertanian RI. Kedatangan Direktur Jenderal Hortikultura Kementerian Pertanian Dr. Ir. Spudnik Sujono Kamino, MM di Kecamatan Kamang Magek disambut dengan sukacita oleh Camat Kamang Magek dan UPT BP4K2P Kecamatan Kamang Magek.
Dirjen blusukan ke lahan pertanian bawang merah di Kecamatan Kamang Magek dalam rangka mensosialisasikan sekaligus memonitoring perkembangan bawang merah di Kabupaten Agam yang dinilanya cukup berhasil dengan penggunaan bibit Maja Cipanas. Dirjen yang turun bersama Direktur Sayuran dan Tanaman Obat, Direktur Perlindungan Tanaman didampingi Kepala Dinas Pertanian Sumatera Barat dan Kabid Hortikulutra Kabupaten Agam, Selasa tanggal 6 Desember 2016 selain berdialog dengan petani tentang program dan tindak lanjut pengembangan bawang merah juga turut mengapresiasi kualitas Jeruk Kamang yang dinilainya luar biasa. Tanpa basa-basi Dirjen turun menemui petani bawang merah dan Jeruk  di kelompoktani Manis Sejahtera, Nagari Kamang Hilia.
Di sela-sela menikmati buah Jeruk di lahan kelompok, Dirjen menyatakan kekagumannya dengan kondisi tanah di Kecamatan Kamang Magek yang mampu menampung segala jenis tanaman Hortikultura. “Seharusnya Kecamatan Kamang Magek ini cocok dijadikan sentra tanaman Hortikultura karena iklimnya sangat mendukung sehingga mampu mengangkat perekonomian masyarakat lebih tinggi lagi”, jelasnya.
Dirjen juga menawarkan Camat Kamang Magek seandainya Kamang Magek mampu menyediakan lahan satu hamparan seluas 100 Ha untuk penanaman Jeruk Kamang tentu hal ini akan semakin menarik. “Kita punya program dan anggaran, tentu hal ini akan sangat menggiurkan, tidak masalah juga tetapi akan lebih sangat cantik seandainya satu hamparan sehingga mampu kita sulap menjadi lahan Agrowisata”, pungkasnya.
Terkait tanaman cabe dan bawang merah yang saat ini menjadi primadona baru di Kabupaten Agam, Dirjen menekankan perluasan lahan tanam bawang dan satu hamparan. ”Berani gak, kalau tanaman bawang ini kita jadikan satu hamparan minimal 5 Ha satu hamparan. Pusatkan Kecamatan Kamang Magek sebagai sentra bawang merah di Kabupaten Agam”, tegasnya. Namun tentu teknik berbudidaya harus lebih ditingkatkan lagi, sehingga produktivitas baik kualitas maupun kuantitas dapat ditingkatkan. Saat ini produktivitas bawang merah Kecamatan Kamang Magek dinilai cukup bagus sehingga mampu menghasilkan 20 sampai 25 anakan setiap bijinya.
Dirjen secara khusus menyampaikan apresiasi terhadap perhatian dan kebijakan Bupati Agam yang dinilainya sangat perhatian terhadap perkembangan dunia pertanian di wilayahnya sehingga petani merasa diuntungkan. Apalagi Dirjen mendengar baru-baru ini Bupati menyediakan waktu secara khusus meninjau pengembangan tanaman hortikultura di Kabupaten Agam. Dirjen juga menjelaskan PR bersama bagi kita semua, bagaimana supaya petani cabe dan bawang seharusnya menikmati harga mahal komoditinya, namun yang terjadi justru para pengumpul dan pedagang yang selalu mengambil keuntungan.

Zulmarni, SP selaku Kabid Hortikultura Kabupaten Agam menjelaskan potensi pengembangan pertanian khususnya tanaman hortikultura di Kecamatan Kamang Magek umumnya adalah pemanfaatan lahan pekarangan seperempat hingga setengah hektar di belakang rumah petani. Hal ini disebabkan karena keterbatasan kepemilikan lahan, sehingga sukar mencetak lahan baru untuk pengembangan hortikulura. “Satu-satunya jalan adalah memaksimalkan setiap tegalan yang ada disamping dijadikan tanaman tumpang sari pada tanaman yang telah ada dan melakukan pergantian pola tanam pada lahan sawah petani dengan tanaman cabe maupun bawang”, tutupnya (Sang T).

Sabtu, 03 Desember 2016

Beternak Ayam Kampung Di Pekarangan

MARI BETERNAK AYAM KAMPUNG. Ayam kampung sudah dibudidayakan sejak jaman dahulu oleh masyarakat di Indonesia. Ayam kampung paling banyak dipelihara oleh masyarakat yang tinggal di daerah pedesaan dan daerah pinggiran kota. Kebanyakan dari mereka yang memelihara ayam kampung lebih kepada hobi semata, karena itu pemeliharaannya pun secukupnya saja sehingga ayam kampung banyak dibiarkan dan dilepaskan begitu saja di halaman rumah atau di sekitar kebun rumah.
Memelihara ayam kampung tidak terlalu sulit, bahkan untuk pakan ayam kampung sekalipun bisa diberikan sisa-sisa dari makanan manusia. Selama masih ada lahan pekarangan di sekitar rumahpun bisa dimanfaatkan untu memelihara ayam kampung.  Sistem pemeliharaan ayam kampung yang dilepaskan (diumbar) dihalaman merupakan cara memelihara ayam yang paling mudah dan sederhana karena kita tidak perlu terlalu pusing mengenai pakan ayam karena ayam sudah bisa memperoleh sendiri makanan yang dibutuhkannya dari halaman tersebut.
Namun cara yang paling mudah ini bukan tanpa masalah. Karena denan sistem seperti ini, ayam sangat mungkin sekali terserang penyakit yang ada di pekarangan atau lingkungan. Selain itu, ayam bisa saja dicuri atau dimakan oleh hewan lain. Untuk itu akan dipaparkan jenis halaman/ pekarangan yang baik untuk beternak ayam kampung dengan cara umbaran ini.
Pakan. Lingkungan yang baik untuk melakukan peternakan ayam kampung dengan cara umbaran adalah lingkungan atau halaman yang banyak menyediakan pakan (biji-bijian seralia, rumput, serangga, cacing, kodok kecil dan sebagainya) sepanjang hari. Namun jangan salah, ayam harus tetap diberikan pakan pokok untuk mempertahankan kesehatan dan produktifitas ayam. Ayam-ayam yang diumbar biasanya tidak pernah diberi pakan khusus karena diharapkan pakan diperoleh dari sekitar lahan umbaran, namun apabila ada modal, pemberian pakan sederhana di pagi hari sangat baik.
Air minum. Walaupun ayam berada di halaman, sebisa mungkin menyediakan tempat air bersih agar ayam bisa minum. Sebenarnya dengan sistem umbaran tidak perlu disediakan karena ayam akan mencari sendiri air minum sesuai dengan kebutuhannya, namun jika ayam dibiarkan meminum air selokan ditakutkan ayam akan tertular penyakit. 
Kandang ayam. Untuk kandangnya sendiri sebaiknya disediakan kandang dengan pintu yang lebar dan terbuka sehingga ayam bisa leluasa masuk ke dalam kandang. Ukurang kandang tergantung dari jumlah ayam. Kandang ayam sangat penting sebagai tempat berlindung ayam saat malam hari, yang paling penting adalah membiasakan ayam kampung tersebut untuk pulang ke kandang saat menjelang sore (Sang T).

Sumber: www.tokoternak.com

Kamang Magek Siap Menjadi Pemasok Utama Bawang Merah Kabupaten Agam


Kecamatan Kamang Magek sebagai salah satu kawasan Hinterland di Kabupaten Agam mempunyai potensi yang sangat luar biasa dalam pengembangan tanaman sayuran. Kecamatan Kamang Magek yang merupakan daerah lereng Bukit Barisan termasuk daerah dataran tinggi yang mempunyai iklim sejuk dengan curah hujan yang tinggi (2.042 mm/tahun).
Salah satu tanaman sayuran yang menjadi primadona baru di Kecamatan Kamang Magek saat ini adalah bawang merah (Allium ascalonicum). Bawang merah merupakan sayuran unggulan nasional yang belum banyak keragaman varietasnya. Bawang merah  dikenal sebagai sayuran yang sangat fluktuatif  harga maupun produksinya. Hal ini terjadi karena pasokan produksi yang tidak seimbang antara panen pada musimnya serta panen di luar musim. Salah satu diantaranya disebabkan tingginya intensitas serangan hama dan penyakit terutama bila penanaman dilakukan di luar musim.
Bawang merah merupakan Tanaman yang cocok dibudidayakan di dataran rendah dengan ketinggian 0 hingga 900 meter dari permukaan laut. Namun hal tersebut seolah tak berlaku di daerah Kecamatan Kamang Magek. Tanaman bawang merah mampu tumbuh subur dan sangat menjanjikan dalam peningkatan perekonomian masyarakat.
Alokasi pengembangan tanaman bawang merah di Kecamatan Kamang Magek oleh Dipertahornak Kabupaten Agam pada Tahun 2016 sebanyak 5 Ha mendapat respon yang sangat signifikan dari para petani. Secara swadaya petani mampu mengembangkan  penanaman tanaman bawang merah menjadi 10 Ha.  Produksi bawang merah di Kecamatan Kamang Magek mampu mencapai 14 - 15 Ton/Ha, melihat peningkatan hasil yang diperoleh serta waktu yang pendek (70-85 hari) membuat para petani mulai melirik sektor ini.
Bakhrizal, S.Sos selaku Kepala UPT BP4K2P Kecamatan Kamang Magek menyatakan para petani saat ini tergiur untuk berbudidaya bawang merah. Kecamatan Kamang Magek sangat potensial dalam pengembangan tanaman bawang merah. Total untuk Tahun 2017 sebanyak 16 kelompoktani dengan luas lahan 21,5 Ha siap untuk menjadikan tanaman bawang merah sebagai komoditas unggulan. Dilihat dari potensi lahan dan animo para petani jumlah tersebut dinilai masih kurang.  Setidaknya Kecamatan Kamang Magek mampu menyediakan 30 Ha  untuk pengembangan tanaman bawang merah. Peran serta penyuluh lapangan dalam memfasilitasi dan mempromosikan komoditi tersebut dinilai sangat vital, pungkas Bakhrizal.

Drs. Surya Wendri selaku Camat Kamang Magek mengapresiasi pengembangan tanaman bawang merah di Kecamatan Kamang Magek yang dinilai sangat berhasil membangkitkan gairah dan merubah pola pikir petani. Surya Wendri yakin Kecamatan Kamang Magek mampu menjadi pilot project tanaman bawang merah di Kabupaten Agam dan menjadi pemasok utama bawang merah untuk Kabupaten Agam khususnya dan Sumatera Barat umumnya. Ketersediaan bawang merah yang  melimpah di Kabupaten Agam diharapkan mampu menetralisir fluktuatif harga bawang merah yang dinilai tidak stabil (Sang T).