Kelompoktani
adalah kumpulan petani/peternak/pekebun yang dibentuk atas dasar kesamaan
kepentingan, kesamaan kondisi, lingkungan (sosial, ekonomi, sumber daya) dan
keakraban untuk meningkatkan dan mengembangkan usaha anggota. Hal itulah yang
melatar belakangi pendirian kelompoktani Manis Sejahtera yang bergerak secara
spesialis untuk tanaman Jeruk Kamang (saya lebih suka menyebutkan Limau Kamang).
Pada pertemuan yang diadakan pada Minggu siang, tanggal 12 Maret 2016 terasa
kental sekali semangat anggota kelompok untuk benar-benar serius mengelola
usahanya dan juga memajukan kelompok sebagai wadah aspirasi mereka.
Saat ini
luas kebun limau kelompok Manis Sejahtera mencapai 9 Ha yang tersebar di lahan
masing-maasing anggota. Dari luas yang ada berdasarkan pengamatan sekitar 60-70
% telah mulai berproduksi. Dengan tingkat awal produktivitas Limau yang baru sekitar
9,5 Ton/Ha, kelompok berharap mampu meningkatkan produktivitas hingga 25 Ton/Ha
sesuai produktivitas rata-rata usahatani Jeruk Nasional.
Melfendri,
selaku Ketua kelompok memaparkan beberapa poin penting kelompok yang diyakini
mampu menjadikan motivasi bagi anggota dan juga mampu meyakinkan pihak terkait
dalam menggelontorkan program unggulan untuk kelompoktani Manis Sejahtera.
Keberhasilan salah seorang anggota kelompok yang mampu meraup pundi-pundi 50
juta rupiah sekali panen, administrasi yang tertata rapi dan AD/ART yang jelas.
Kelompok juga sudah mempunyai kantor Sekretariat dan juga berencana membuat
logo kelompok. Kelompok juga transparan dalam pelaporan keuangan minimal sekali
dalam sebulan.
Bakhrizal,
S.Sos selaku Kepala UPT BP4K2P Kecamatan Kamang Magek yang hadir bersama
rombongannya tak dapat menyembunyikan kebahagiaannya melihat antusias kelompok
dan tingkat disiplin yang dimiliki. Manis Sejahtera pantas berbangga dan
diunggulkan dalam kegiatan penilaian kelompoktani sektor Hortikultura bulan Mei
depan. Bakhrizal mengungkapkan kelebihan utama Manis Sejahtera dan juga petani
Limau Kamang lainnya adalah pemanfaatan lahan pekarangan yang tidak begitu luas.
Berbeda dengan petani serupa di Gunung Omeh maupun Baso yang mempunyai lahan
terbuka yang luas, petani Limau Kamang “hanya” mengelola hamparan kecil di
belakang rumah. Pemanfaatan pola tanam tumpang sari antara Limau dan Cabe juga
mampu menopang perekonomian sehari-hari anggota kelompok. Tidak kalah penting
adalah lokasi petani yang sangat strategis dalam pemasaran Limau Kamang. Hanya
mengangkut dengan gerobak, Limau Kamang sudah sampai ke jalan utama masuk objek
wisata Tarusan Kamang dari arah Pekan Baru.
Bakhrizal
meyakini kelompoktani Manis Sejahtera siap bersaing dalam perang bisnis menyongsong
Pasar Bebas Asean 2017. Untuk itu kelompok harus melengkapi peryaratan
administrasi dan AD/ART, membekali diri dengan Standar Operasional Prosedur (SOP)
budidaya Limau Kamang dan melaksanakan registrasi lahan. Dalam mendukung hal
tersebut diatas diharapkan kelompok mampu menyediakan outlet-outlet pemasaran
yang dilengkapi dengan brosur atau data pendukung.
Sementara
itu Zul Ikhsan, selaku wakil rakyat pada Komisi II Bidang Perekonomian dan
Keuangan DPRD Agam menyatakan kelompoktani adalah garda terdepan dalam
mendorong kehidupan masyarakat dan menjadi ajang inovasi untuk mencari
terobosan-terobosan terbaru dalam pertanian baik itu melalui penyuluh lapang,
peneliti, mahasiswa maupun kelompok itu sendiri. Kelompoktani Manis Sejahtera
dapat membanggakan kembali Nagari yang pernah jaya dengan Limaunya tersebut.
Zul
Ikhsan berpesan agar kelompok menjaga hubungan yang bagus dengan Balai
Penyuluhan Kecamatan, sebab segala bentuk kegiatan pertanian tidak akan
terlepas dari BPK. BPK merupakan ujung tombak pemerintah yang terjun langsung
sampai ke akar pertanian dan juga menjemput segala permasalahan yang dihadapi
petani untuk dipecahkan secara bersama-sama.
Di era
kamajuan sekarang ini, kita tidak dapat mengetahui kelebihan maupun kekurangan tanpa
melakukan studi banding ke lokasi lain dalam mencari tambahan referensi dan
berbagi informasi demi kemajuan.
Satu hal
yang ditekankan oleh Zul Ikhsan adalah mindset selama ini tentang
ketidakpahaman anggota kelompok terhadap suatu program pemerintah. Kelompok
selama ini berpikir seperti meminta kepada orangtua saja, pagi diminta siang
sudah diterima. Namun kelompok harus membenahi diri dulu dan “Harus Ado Aleh Pangek”.
Artinya kelompok mempunyai usaha pendukung dan juga mempunyai keuangan
kelompok.
Menutup
sesi diskusi, Melfendri menyampaikan keluhan kelompok selama ini adalah
penggunaan saprodi apa adanya dan jauh dari kecukupan. Minimal dibutuhkan 6 unit
Sprayer untuk mendukung optimalnya pemeliharaan dan 5 unit mesin pemotong
rumput untuk mengelola lahan kelompok (Sang T).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar