Sabtu, 12 Maret 2016

Manis Sejahtera (Limau Kamang) Siap Menuju Pasar Bebas ASEAN

Kelompoktani adalah kumpulan petani/peternak/pekebun yang dibentuk atas dasar kesamaan kepentingan, kesamaan kondisi, lingkungan (sosial, ekonomi, sumber daya) dan keakraban untuk meningkatkan dan mengembangkan usaha anggota. Hal itulah yang melatar belakangi pendirian kelompoktani Manis Sejahtera yang bergerak secara spesialis untuk tanaman Jeruk Kamang (saya lebih suka menyebutkan Limau Kamang). Pada pertemuan yang diadakan pada Minggu siang, tanggal 12 Maret 2016 terasa kental sekali semangat anggota kelompok untuk benar-benar serius mengelola usahanya dan juga memajukan kelompok sebagai wadah aspirasi mereka.
Saat ini luas kebun limau kelompok Manis Sejahtera mencapai 9 Ha yang tersebar di lahan masing-maasing anggota. Dari luas yang ada berdasarkan pengamatan sekitar 60-70 % telah mulai berproduksi. Dengan tingkat awal produktivitas Limau yang baru sekitar 9,5 Ton/Ha, kelompok berharap mampu meningkatkan produktivitas hingga 25 Ton/Ha sesuai produktivitas rata-rata usahatani Jeruk Nasional.
Melfendri, selaku Ketua kelompok memaparkan beberapa poin penting kelompok yang diyakini mampu menjadikan motivasi bagi anggota dan juga mampu meyakinkan pihak terkait dalam menggelontorkan program unggulan untuk kelompoktani Manis Sejahtera. Keberhasilan salah seorang anggota kelompok yang mampu meraup pundi-pundi 50 juta rupiah sekali panen, administrasi yang tertata rapi dan AD/ART yang jelas. Kelompok juga sudah mempunyai kantor Sekretariat dan juga berencana membuat logo kelompok. Kelompok juga transparan dalam pelaporan keuangan minimal sekali dalam sebulan.
Bakhrizal, S.Sos selaku Kepala UPT BP4K2P Kecamatan Kamang Magek yang hadir bersama rombongannya tak dapat menyembunyikan kebahagiaannya melihat antusias kelompok dan tingkat disiplin yang dimiliki. Manis Sejahtera pantas berbangga dan diunggulkan dalam kegiatan penilaian kelompoktani sektor Hortikultura bulan Mei depan. Bakhrizal mengungkapkan kelebihan utama Manis Sejahtera dan juga petani Limau Kamang lainnya adalah pemanfaatan lahan pekarangan yang tidak begitu luas. Berbeda dengan petani serupa di Gunung Omeh maupun Baso yang mempunyai lahan terbuka yang luas, petani Limau Kamang “hanya” mengelola hamparan kecil di belakang rumah. Pemanfaatan pola tanam tumpang sari antara Limau dan Cabe juga mampu menopang perekonomian sehari-hari anggota kelompok. Tidak kalah penting adalah lokasi petani yang sangat strategis dalam pemasaran Limau Kamang. Hanya mengangkut dengan gerobak, Limau Kamang sudah sampai ke jalan utama masuk objek wisata Tarusan Kamang dari arah Pekan Baru.
Bakhrizal meyakini kelompoktani Manis Sejahtera siap bersaing dalam perang bisnis menyongsong Pasar Bebas Asean 2017. Untuk itu kelompok harus melengkapi peryaratan administrasi dan AD/ART, membekali diri dengan Standar Operasional Prosedur (SOP) budidaya Limau Kamang dan melaksanakan registrasi lahan. Dalam mendukung hal tersebut diatas diharapkan kelompok mampu menyediakan outlet-outlet pemasaran yang dilengkapi dengan brosur atau data pendukung.
Sementara itu Zul Ikhsan, selaku wakil rakyat pada Komisi II Bidang Perekonomian dan Keuangan DPRD Agam menyatakan kelompoktani adalah garda terdepan dalam mendorong kehidupan masyarakat dan menjadi ajang inovasi untuk mencari terobosan-terobosan terbaru dalam pertanian baik itu melalui penyuluh lapang, peneliti, mahasiswa maupun kelompok itu sendiri. Kelompoktani Manis Sejahtera dapat membanggakan kembali Nagari yang pernah jaya dengan Limaunya tersebut.
Zul Ikhsan berpesan agar kelompok menjaga hubungan yang bagus dengan Balai Penyuluhan Kecamatan, sebab segala bentuk kegiatan pertanian tidak akan terlepas dari BPK. BPK merupakan ujung tombak pemerintah yang terjun langsung sampai ke akar pertanian dan juga menjemput segala permasalahan yang dihadapi petani untuk dipecahkan secara bersama-sama.
Di era kamajuan sekarang ini, kita tidak dapat mengetahui kelebihan maupun kekurangan tanpa melakukan studi banding ke lokasi lain dalam mencari tambahan referensi dan berbagi informasi demi kemajuan.
Satu hal yang ditekankan oleh Zul Ikhsan adalah mindset selama ini tentang ketidakpahaman anggota kelompok terhadap suatu program pemerintah. Kelompok selama ini berpikir seperti meminta kepada orangtua saja, pagi diminta siang sudah diterima. Namun kelompok harus membenahi diri dulu dan “Harus Ado Aleh Pangek”. Artinya kelompok mempunyai usaha pendukung dan juga mempunyai keuangan kelompok.
Menutup sesi diskusi, Melfendri menyampaikan keluhan kelompok selama ini adalah penggunaan saprodi apa adanya dan jauh dari kecukupan. Minimal dibutuhkan 6 unit Sprayer untuk mendukung optimalnya pemeliharaan dan 5 unit mesin pemotong rumput untuk mengelola lahan kelompok (Sang T).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar