Sabtu, 12 Maret 2016

Manis Sejahtera (Limau Kamang) Siap Menuju Pasar Bebas ASEAN

Kelompoktani adalah kumpulan petani/peternak/pekebun yang dibentuk atas dasar kesamaan kepentingan, kesamaan kondisi, lingkungan (sosial, ekonomi, sumber daya) dan keakraban untuk meningkatkan dan mengembangkan usaha anggota. Hal itulah yang melatar belakangi pendirian kelompoktani Manis Sejahtera yang bergerak secara spesialis untuk tanaman Jeruk Kamang (saya lebih suka menyebutkan Limau Kamang). Pada pertemuan yang diadakan pada Minggu siang, tanggal 12 Maret 2016 terasa kental sekali semangat anggota kelompok untuk benar-benar serius mengelola usahanya dan juga memajukan kelompok sebagai wadah aspirasi mereka.
Saat ini luas kebun limau kelompok Manis Sejahtera mencapai 9 Ha yang tersebar di lahan masing-maasing anggota. Dari luas yang ada berdasarkan pengamatan sekitar 60-70 % telah mulai berproduksi. Dengan tingkat awal produktivitas Limau yang baru sekitar 9,5 Ton/Ha, kelompok berharap mampu meningkatkan produktivitas hingga 25 Ton/Ha sesuai produktivitas rata-rata usahatani Jeruk Nasional.
Melfendri, selaku Ketua kelompok memaparkan beberapa poin penting kelompok yang diyakini mampu menjadikan motivasi bagi anggota dan juga mampu meyakinkan pihak terkait dalam menggelontorkan program unggulan untuk kelompoktani Manis Sejahtera. Keberhasilan salah seorang anggota kelompok yang mampu meraup pundi-pundi 50 juta rupiah sekali panen, administrasi yang tertata rapi dan AD/ART yang jelas. Kelompok juga sudah mempunyai kantor Sekretariat dan juga berencana membuat logo kelompok. Kelompok juga transparan dalam pelaporan keuangan minimal sekali dalam sebulan.
Bakhrizal, S.Sos selaku Kepala UPT BP4K2P Kecamatan Kamang Magek yang hadir bersama rombongannya tak dapat menyembunyikan kebahagiaannya melihat antusias kelompok dan tingkat disiplin yang dimiliki. Manis Sejahtera pantas berbangga dan diunggulkan dalam kegiatan penilaian kelompoktani sektor Hortikultura bulan Mei depan. Bakhrizal mengungkapkan kelebihan utama Manis Sejahtera dan juga petani Limau Kamang lainnya adalah pemanfaatan lahan pekarangan yang tidak begitu luas. Berbeda dengan petani serupa di Gunung Omeh maupun Baso yang mempunyai lahan terbuka yang luas, petani Limau Kamang “hanya” mengelola hamparan kecil di belakang rumah. Pemanfaatan pola tanam tumpang sari antara Limau dan Cabe juga mampu menopang perekonomian sehari-hari anggota kelompok. Tidak kalah penting adalah lokasi petani yang sangat strategis dalam pemasaran Limau Kamang. Hanya mengangkut dengan gerobak, Limau Kamang sudah sampai ke jalan utama masuk objek wisata Tarusan Kamang dari arah Pekan Baru.
Bakhrizal meyakini kelompoktani Manis Sejahtera siap bersaing dalam perang bisnis menyongsong Pasar Bebas Asean 2017. Untuk itu kelompok harus melengkapi peryaratan administrasi dan AD/ART, membekali diri dengan Standar Operasional Prosedur (SOP) budidaya Limau Kamang dan melaksanakan registrasi lahan. Dalam mendukung hal tersebut diatas diharapkan kelompok mampu menyediakan outlet-outlet pemasaran yang dilengkapi dengan brosur atau data pendukung.
Sementara itu Zul Ikhsan, selaku wakil rakyat pada Komisi II Bidang Perekonomian dan Keuangan DPRD Agam menyatakan kelompoktani adalah garda terdepan dalam mendorong kehidupan masyarakat dan menjadi ajang inovasi untuk mencari terobosan-terobosan terbaru dalam pertanian baik itu melalui penyuluh lapang, peneliti, mahasiswa maupun kelompok itu sendiri. Kelompoktani Manis Sejahtera dapat membanggakan kembali Nagari yang pernah jaya dengan Limaunya tersebut.
Zul Ikhsan berpesan agar kelompok menjaga hubungan yang bagus dengan Balai Penyuluhan Kecamatan, sebab segala bentuk kegiatan pertanian tidak akan terlepas dari BPK. BPK merupakan ujung tombak pemerintah yang terjun langsung sampai ke akar pertanian dan juga menjemput segala permasalahan yang dihadapi petani untuk dipecahkan secara bersama-sama.
Di era kamajuan sekarang ini, kita tidak dapat mengetahui kelebihan maupun kekurangan tanpa melakukan studi banding ke lokasi lain dalam mencari tambahan referensi dan berbagi informasi demi kemajuan.
Satu hal yang ditekankan oleh Zul Ikhsan adalah mindset selama ini tentang ketidakpahaman anggota kelompok terhadap suatu program pemerintah. Kelompok selama ini berpikir seperti meminta kepada orangtua saja, pagi diminta siang sudah diterima. Namun kelompok harus membenahi diri dulu dan “Harus Ado Aleh Pangek”. Artinya kelompok mempunyai usaha pendukung dan juga mempunyai keuangan kelompok.
Menutup sesi diskusi, Melfendri menyampaikan keluhan kelompok selama ini adalah penggunaan saprodi apa adanya dan jauh dari kecukupan. Minimal dibutuhkan 6 unit Sprayer untuk mendukung optimalnya pemeliharaan dan 5 unit mesin pemotong rumput untuk mengelola lahan kelompok (Sang T).

Jumat, 11 Maret 2016

Rehab Kolam Mesjid Dangau Baru Menggunakan Alat Berat

Sebagaimana Mesjid-mesjid tua lainnya di Minangkabau yang mempunyai kolam di pekarangannya yang ditujukan selain tempat menyucikan diri seperti mandi maupun berwudhu juga merupakan juga suatu potensi dalam mengelola usaha yang dapat menghasilkan. Namun sayang sekali, saat ini telah banyak kolam mesjid yang telah ditimbun dengan tujuan membuat lapangan parkir ataupun perluasan mesjid. Padahal nenek moyang kita dahulunya sengaja membuat kolam tersebut dan menjadikan mesjid itu menjadi tempat yang indah dan asri, namun sudahlah... saya hanya kecewa.
Beralih ke topik, salah satu mesjid yang tetap mempertahankan kolam mesjid adalah mesjid Taqwim Jorong Dangau Baru Nagari Kamang Hilir. Pemuda dan pengelola sepakat untuk mempertahankan kolam tersebut dan menjadikannya sebagai kolam ikan yang hasilnya dapat dipanen.
Elmira Adharni, A.Md selalu penyuluh perikanan menyuluhkan tentang arti penting kolam Kamis, tanggal 10 Maret. Kolam adalah tempat yang sengaja dibangun untuk penampungan air dalam jumlah terbatas sehingga bisa dipakai atau digunakan untuk kegiatan budidaya ikan dan jenis hewan air lainnya yang dapat dibudidayakan. Supaya target produksinya dapat terkoodinir dengan baik. 
Fungsi Kolam juga selain sebagai media hidup ikan meski dapat berfugsi sebagai sumber tumbuh pakan alami bagi kehidupan ikan. Dalam rangka melakukan rehab dan penggalian kembali kolam yang telah mulai mendangkal pemuda Jorong Dangau Baru menggunakan alat berat berupa eskavator untuk menggali dan memperdalam kembali kolam mesjid seluas setengah hektar tersebut. Tujuan penggalian tersebut adalah mengangkat sedimen dan lumpur yang menumpuk, pembalikan dasar kolam dan untuk memperbaiki tekstur tanah. Biaya yang dikeluarkan cukup besar, yaitu 3 juta rupiah perhari, dan telah memasuki hari ketiga. Elmira menyayangkan, tidak ada koordinasi dari  pemuda tentang hal tersebut. Padahal Pemda Agam melalui Dinas Kelautan dan Perikanan mempunyai alat berat yang dapat digunakan untuk rehabilitasi kolam sehingga dapat menghemat biaya pengerjaan.
Elmira juga menerangkan setelah penggalian selesai lanjutkan dengan pemberian kapur dan pupuk kandang. Tujuannya yaitu untuk menetralisir pH tanah dan membunuh bibit penyakit. Penggunaan pupuk kandang digunakan untuk meningkatkan kesuburan tanah kembali sehingga ketersediaan pakan alami terjaga. Elmira memperkirakan diperlukan benih ikan sebanyak 125.000 ekor untuk mengisi kolam ikan Mesjid Taqwim tersebut. Diperkirakan ada sekitar 5 Ha kolam ikan  yang dapat difungsikan kembali setelah sekian lama terlantar. Untuk itu, Elmira kembali meminta pendataan ulang terhadap potensi kolam ikan di Jorong Dangau Baru.
Penutup,Elmira juga melihat potensi yang besar dalam pengembangan potensi kolam ikan Mesjid Taqwim yaitu ketersediaan air yang terus menerus dan kondisi air yang dapat dikendalikan keluar masuk (Sang T).



  


Jumat, 04 Maret 2016

Revitalisasi Oryza Sativa dan Adopsi Pola Tanam Balai Penyuluhan

“Oryza Sativa“ merupakan nama ilmiah dari tanaman padi. Padi merupakan salah satu tanaman budidaya terpenting dalam peradaban. Namun demikian, Oryza Sativa yang dibicarakan saat ini adalah sebuah kelompoktani di Jorong Magek yang merupakan salah satu kelompoktani tertua di Nagari Magek.
Setelah sekian lama terjadi kevakuman kegiatan, kelompoktani Oryza Sativa mulai menggeliat setelah dilakukannya Revitalisasi kepengurusan. Pengurus lama yang merupakan sesepuh di Jorong merasa sudah tidak mampu lagi menjalankan amanah kelompok sehingga atas hasil musyawarah terpilihlah pengurus baru yang merupakan generasi muda tani. Memang benar demikian seharusnya, seandainya sesuatu kegiatan sudah tidak berjalan lagi maka revitalisasi adalah kunci keluarnya. Dengan adanya revitalisasi, maka akan muncul darah baru lagi.
Dalam penyusunan rencana kerja, Jumat Tanggal 4 Maret 2016, Yose Elfiranto, SST selaku penyuluh pertanian Nagari Magek mencoba menggali kembali potensi kelompoktani Oryza Sativa yang lama terpendam. Lokasi lahan kelompok yang terletak pada pintu air Batang Agam merupakan suatu kekuatan yang sangat bagus dalam pengembangan segala bentuk pertanian. Air yang bisa dikontrol penggunaannya membuat petani telah terbiasa melakukan tanam dua kali setahun. Namun sayang sekali, petani masih melakukan sistem tanam padi secara konvensional pada lahan seluas 40 Ha tersebut yang hasilnya biasa-biasa saja atau tidak ada peningkatan.
Atas dasar itulah, Yose mengajak para petani untuk mau menerapkan anjuran dan rekomendasi dari Balai Penyuluhan Kecamatan tentang sistem tanam padi sawah. Berdasarkan penelitian dan pengujian, sistem tanam yang direkomendasikan saat ini adalah sistem tanam padi Jajar Legowo.
Tujuan utama dari Tanam Padi dengan Sistem Jajar Legowo yaitu meningkatkan populasi tanaman dengan cara mengatur jarak tanam dan memanipulasi lokasi dari tanaman yang seolah-olah tanaman padi berada di pinggir (tanaman pinggir) atau seolah-olah tanaman lebih banyak berada di pinggir. Yang berdasarkan pengalaman, tanaman padi yang berada di pinggir akan menghasilkan produksi padi lebih tinggi dan kualitas dari gabah yang lebih baik, ini dikarenakan tanaman padi di pinggir akan mendapatkan sinar matahari yang lebih banyak. Itulah sebabnya sistem jajar legowo menjadi salah satu pilihan dalam proses meningkatkan produksi gabah.
Dengan kondisi sawah yang siap tanam saat ini, disepakati bahwa kelompoktani Oryza Sativa akan melaksanakan kegiatan tanam dengan pola Sistem Jajar Legowo secara swadaya. Hal ini didasari keingin tahuan petani dan juga melihat hasil yang diperoleh dari kelompok tetangga (Sang T).

Minggu, 28 Februari 2016

Zul Ikhsan: Kelompoktani Harus Mendekatkan Diri Dengan Balai Penyuluhan Kecamatan

Kelompoktani Ternak Dangau Baru Saiyo yang terletak di Kanagarian Kamang Hilia terus marathon memperbaiki manajemen kelompok. Kelompok yang tergolong baru tersebut didirikan oleh sekelompok pemuda yang mempunyai pemikiran sama bagaimana mengelola usaha secara bersama-sama dan tukar pemikiran dalam pemeliharaan ternak yang mereka pelihara. Dalam rangka penyusunan rencana kerja ke depan, kelompoktani Ternak Dangau Baru Saiyo melakukan pertemuan yang dihadiri  seluruh anggota kelompok pada hari Minggu tanggal 28 Februari 2016.
Nurhasiswan, selaku Kepala UPT Puskeswan Wilayah VII (Kecamatan Baso dan Kecamatan Kamang Magek) mengapresiasi para pemuda yang menurutnya mempunyai potensi yang besar untuk maju. Nurhasiswan memaparkan ada beberapa poin yang perlu diperhatikan untuk kokohnya suatu kelompok. Suatu kelompok bukan hanya berbicara secara lisan, namun harus diiringi dengan kerja nyata. Beberapa poin penting kelompok adalah:

1.      Kelompok harus mempunyai anggota
2.      Kelompok terdaftar dan mempunyai SK
3.      Mempunyai administrasi yang rapi
4.      Kelompok mempunyai kantor sekretariat
5.      Kelompok tidak bergantung kepada bantuan pemerintah
Nurhasiswan menjelaskan potensi Nagari Kamang Hilia yang sangat potensial dengan hijaun makanan ternak harus mampu dikelola oleh kelompok. Kelompoktani Dangau Baru Saiyo dengan potensi yang ada harus partisipatif menyikapi hal tersebut. Dalam mendukung program percepatan swasembada daging sapi dan kerbau Tahun 2017, Nurhasiswan menyarankan kelompok lebih fokus terhadap pemeliharaan sapi potong dan sapi induk.
Sementara itu kehadiran Zul Ikhsan seolah membawa angin segar bagi para peternak yang tergabung dalam kelompoktani Ternak Dangau Baru Saiyo. Betapa tidak, seolah kehadiran anggota DPRD Kabupaten Agam yang berada di Komisi II yang membawahi bidang pertanian tersebut diharapkan mampu membawa aspirasi mereka.
Ibarat sebuah lidi yang mudah dipatahkan, Zul Ikhsan mengibaratkan sebuah kelompok dengan sapu lidi yang terikat kuat dan mampu membersihkan setiap permasalahan. Kelompok diharapkan adalah tempat berunding dan memecahkan suatu masalah dan menjadi ajang diskusi demi perbaikan kualitas diri. Kelompok harus mempunyai legalitas yang jelas dan tujuan yang jelas. Seandainya hal tersebut sudah terlaksana, adalah menjadi tugas pemerintah (Balai Penyuluhan Kecamatan) untuk memfasilitasi kepentingan pelaku utama.
Zul Ikhsan bersyukur dengan keberadaan kelompoktani Ternak Dangau Baru Saiyo dan potensi yang ada. Sebut saja keberadaan Ibukota Kecamatan, potensi putera nagari yang dimiliki seperti penyuluh peternakan, Kepala Bidang Perikanan maupun Kepala Bidang Peternakan Provinsi sampai dengan potensi anggota DPRD. Untuk itu Zul Ikhsan berharap kelompok mampu menghilangkan semua perbedaan yang ada dan memahami perbedaan tersebut. Kelompok juga harus berpedoman kepada AD/ART, sebab AD/ART adalah keputusan tertinggi kelompok.
Yose Elfiranto, SST selaku putera nagari sekaligus penyuluh setempat berharap kelompok mampu menyelesaikan setiap masalah secara bersama-sama dan tukar informasi. Ibarat pepatah Minang Barek samo dipikua, ringan samo dijinjiang. “Membentuk kelompok sangatlah mudah, namun mempertahankan eksistensinya sukar dilaksanakan. Kelompok harus mampu menunjukkan kinerjanya dan memperbaiki administrasi secara kontinu. Selain itu, kelompok mempunyai potensi seperti sebagian anggota adalah peternak, kelompok juga mempunyai lahan kosong seluas lebih kurang 1 Ha dan mempunyai sumber dana sebagai kas kelompok. Ini adalah nilai plus kelompok” ujar Yose.
Melihat potensi yang ada dan rencana kerja kelompok, Zul Ikhsan yakin akan eksistensi kelompok. “Untuk mempertegas keberadaannya, kelompok harus mampu menjalin kebersamaan dan mampu memahami perbedaan. Kelompok juga harus menjalin komunikasi/mendekatkan diri dengan Balai Penyuluhan Kecamatan. Sehubungan dengan pendanaan, kelompok sebaiknya mempunyai wadah keuangan dan tergabung dalam Lembaga Keuangan seperti Koperasi maupun BMT” pungkas Zul Ikhsan menutup diskusi (Sang T).

Kamis, 25 Februari 2016

FATHIR, Dari 80 Batang Limau Kamang Menghasilkan 50 Juta Rupiah Satu Kali Panen

Siapa tak kenal dengan Jeruk (Limau) Kamang? Pada dekade 80-an Limau Kamang mengalami masa puncak jayanya. Salah satu pelopor berjayanya Limau Kamang tersebut adalah H. Nasrullah, beliau sekarang sudah tidak ada. Namun tongkat estafet untuk tetap berjaya di Limau Kamang, tampaknya mengalir dalam salah satu putera beliau.
Fathir, salah satu putera beliau saat ini mulai merintis usaha berkebun Limau Kamang. Mulai dari Nol, di saat Limau Kamang diterpa Virus yang menghancurkan seluruh komoditi Limau Kamang, Sekarang Fathir sudah dapat membusungkan dada melihat rimbunnya buah Limau Kamangnya.
Sempat mengenyam pendidikan di Perguran Tinggi, namun jiwa wiraswasta  membuat Fathir mengakhiri masa pendidikannya walaupun itu penuh resiko terhadap masa depannya.
Fathir, petani Limau  berusia 49 tahun ini adalah sosok petani yang menjadi wakil ketua dalam Kelompoktani Manis Sejahtera Jorong Nan VII, Nagari Kamang Hilia, Kecamatan Kamang Magek. Lahir pada tanggal 27 Februari 1967 adalah anak ketiga dari 5 bersaudara pasangan H. Nasrullah dan Hj. Fauziah.
Pengalaman berkebun Fathir dimulai saat masih aktif sebagai pelajar di bangku SMA sekitar tahun 80-an, saat membantu orangtua berkebun Limau Kamang. Motivasi untuk maju begitu tinggi, sehingga tidak malu untuk bertanya kesana kemari, dan belajar dari pengalaman dan praktek yang dilakukan. Besar dari keluarga dan lingkungan petani membuat Fathir lebih mudah menguasai ilmu pertanian yang didapat. 
Dalam kiprahnya sebagai petani, Fathir banyak berinteraksi dengan berbagai kalangan termasuk dengan para petani Limau di Kamang Hilia, petani maju, petugas PHP dan terutama dengan para Penyuluh. Fathir juga menjadi sumber ilmu dan guru bagi para petani limau di Kamang Hilia
Sejarah Usaha  
Sebenarnya hobi berkebun Limau sudah turun temurun dari orangtua Fathir. Sekitar Tahun 1975 s/d 1984 orangtuanya sudah berkiprah di bidang Limau. H. Nasrullah dan H. Samiak merupakan simbol perintis Limau Kamang. Sehingga saat itu orang berbondong-bondong menanam Limau Kamang melihat kesuksesan dan nilai ekonomi dari Limau Kamang. Perekonomian masyarakat meningkat drastis, banyak orang kaya baru bermunculan di Nagari Kamang. Pada tahun 1984, mulailah masa suram itu. Nagari Kamang dihantam Virus CVPD yang menghantam sendi perekonomian petani khususnya petani Limau Kamang.
Melihat kondisi tersebut, selepas SMA Fathir yang mempunyai jiwa mandiri, mulai merintis usaha perabot Kamang. Dengan usaha yang kecil-kecilan sampai berkembang dan mempunyai beberapa karyawan, Fathir terus bereksperimen dengan niat tulus supaya Limau Kamang kembali bisa berjaya lagi. Dengan melakukan berbagai demplot dan percobaan, Fathir terus berusaha meskipun hasilnya tetap mengecewakan, umur Limau hanya bertahan 4 tahun.
Pada Tahun 1995 s/d 2010 Fathir memfokuskan untuk serius di bidang usaha perabot Kamang. Setelah mengalami masa kejayaan dengan perabot, usaha perabot mulai goyang dan tidak menguntungkan lagi karena faktor susahnya mendapatkan bahan baku. Fathir mulai berpikir tentang usaha apa yang akan diteruskan. Kembali ke niat awal, Fathir mulai belajar bertanya ke sana kemari dan belajar dari pengalaman petani sebelumnya, akhirnya diputuskan bahwa Limau Kamang harus kembali dibangkitkan.
Setelah berpikir dengan matang dan memperhitungkan faktor kegagalan, Fathir mulai membuka lahan yang telah mulai terlantar. Segala pemikiran dicurahkan untuk menangkal kembalinya virus CPPD. Fathir mulai mencari informasi ke Balai Penyuluhan Kecamatan tentang Tata Cara Pemeliharaan Limau Kamang dan Strategi Menangkal Penyakit Limau. Mengikuti anjuran Penyuluh, Fathir mulai menerapkan teknologi Pertanian dalam mengelola usaha berkebun Limau.
Apa Kelebihan Seorang Fathir?
Apa kelebihan dari seorang Fathir? Minat yang besar terhadap perkembangan Limau Kamang membuat Fathir terus melakukan eksperimen dengan niat dapat menjadikan Limau Kamang kembali ke puncak kejayaannya. Kemauan yang kuat untuk maju juga membuat Fathir tidak mau besar kepala dengan hasil yang telah diperolehnya. Fathir yang selama ini dikenal ramah dan suka membantu, terus membimbing para petani pemula untuk berusaha Limau Kamang dan bersedia menjadi tempat konsultasi mereka.
Bakhrizal, S.Sos selaku Kepala UPT BP4K2P Kecamatan Kamang Magek mengaku salut dan terkesan dengan semangat Fathir dalam usaha memajukan Limau Kamang. Dia berharap, semangat Fathir tersebut dapat menular kepada para petani di Kecamatan Kamang Magek.
Penerapan Teknologi Petanian
Jumlah luasan kebun Limau Kamang milik kelompoktani Manis Sejahtera saat ini sekitar  15 Ha yang tersebar di Nagari Kamang Hilia. Saat ini jumlah Limau Kamang milik Fathir sebanyak 400 batang, dan 80 batang sudah mulai menghasilkan. Buah yang dihasilkan pada kebun Fathir boleh dikatakan luar biasa hasilnya. Hasnul Hadya selaku Penyuluh Pertanian Swadaya mengistilahkan Limau Kamang milik Fathir ibarat telur itik sebesar  mangga. Dengan kualitas super yang dihasilkan tentu Limau Fathir menjadi bahan lirikan para toke buah.
Namun dibalik itu, apa yang dilakukan oleh Fathir sehingga dapat kembali “mambangkik batang tarandam” tersebut? Mengikuti pola anjuran tentang Tata Cara Pemeliharaan Limau Kamang dan Penggunaan Teknologi Pertanian dari Balai Penyuluhan Kecamatan, Fathir mulai menerapkannya di lahan Limau miliknya.
Melalui serangkaian penyuluhan yang diikuti, Fathir tertarik mencoba melakukan percobaan menggunakan bubur Bordo dan bubur California. Bubur Bordeaux (bordo) adalah salah satu pestisida yang bisa dibuat sendiri. Pestisida ini sudah dikenal sangat lama dan terbukti manjur untuk mengatasi serangan penyakit yang disebabkan oleh jamur.
Bubur california adalah pestisida yang dapat dibuat sendiri  dengan menggunakan bahan baku yang mudah didapat dan merupakan pestisida alternatif yang dapat digunakan untuk mengendalikan berbagai jenis hama dan penyakit tanaman ,kususnya tanaman jeruk. Bubur california sangat efektif dan luar biasa dalam mengatasi gangguan tanaman yang disebabkan oleh cendawan atau jamur dan jenis-jenis tertentu dari golongan akarina. Penyakit blendok atau cendawan dan jamur kerak yang biasa menyerang batang dapat dikendalikan dengan bubur california, begitu juga tungau yang biasa menyerang daun  dan buah serta bisa untuk mencegah gangguan atau serangan dari hama dan penyakit lainnya. Cara mengaplikasikan bubur california bisa melalui penyemprotan dan penyaputan.
Penyemprotan dilakukan dengan mencampur larutan yang jernih dan air bersih  dengan dosis ± 70-100 Ml/L. Sedangkan penyaputan yang biasa dilakukan pada batang menggunakan endapan yang ada dan dicampur dengan perekat. Perlu diketahui bahwa bubur california setelah proses  pembuatannya selesai kemudian dibiarkan sampai dingin akan terjadi pengendapan. Larutan yang mengendap digunakan untuk penyaputan dan larutan yang  diatas yang jernih digunakan untuk sebagai bahan penyemprotan.
Fathir juga menemukan metode baru dalam hal pemupukan. Besaran dosis dan tenggang waktu pemupukan menjadi prioritas Fathir. Tujuannya bagaimana supaya tubuh yang penuh dengan makanan dapat menghasilkan buah yang berkualitas dan tahan penyakit.
Hasil Yang Diperoleh
Sekarang ini, Fathir telah dapat membuktikan diri kepada masyarakat bahwa kesungguhan dan ilmu yang didapatkan dari Balai Penyuluhan Kecamatan telah berguna dalam mengembalikan Limau Kamang. Petani Limau yang selama ini lesu kembali menggeliat dan optimis kembali menatap ekonomi yang lebih baik.
Melihat analisa usaha yang dilakukan Fathir dan pendapatan yang diperolehnya sekitar 50 juta rupiah sekali panen, rasanya semua petani di Nagari Kamang Hilia akan tergoda kembali menanam Limau Kamang di Lahan mereka. Sepantasnyalah Fathir didaulat sebagai Penyuluh Limau Kamang mengingat ilmu yang ditularkannya kepada masyarakat (Sang T).