Selasa, 25 Agustus 2015

KEARIFAN LOKAL DALAM PENGELOLAAN PADI SAWAH DI KECAMATAN KAMANG MAGEK

Tulisan ini akan membahas tentang kearifan lokal dalam pengelolaan padi sawah di Nagari Kamang Hilia Kecamatan Kamang Magek Kabupaten Agam Sumatera Barat.
Padi sawah menjadi menarik untuk diteliti karena tiap daerah memiliki pengetahuan lokal masing-masing dalam pengelolaannya dan secara umum masyarakat Indonesia khususnya bagian barat mengkonsumsi beras sebagai makanan pokok. Perkembangan di bidang pertanian terus mereka ikuti hingga sekarang agar mendapatkan hasil yang terbaik dan dapat memenuhi kebutuhan ekonomi mereka. Dengan demikian, dalam pengelolaan pertanian sawah petani Nagari Kamang Hilia menggabungkan kearifan lokal yang mereka miiki dengan teknologi baru dibidang pertanian. 
Salah satu provinsi yang menggunakan kearifan lokal dalam pengelolaan padi sawah adalah Provinsi Sumatera Barat. Provinsi Sumatera Barat mengalami kemajuan yang cukup pesat pada sektor pertanian. Potensi pertanian yang meningkat ini didapat dari bertambahnya luas panen padi sebesar 1,03% karena adanya program 12 arah kebijakan pembangunan pertanian dan Gerakan Penyejahteraan Petani (GPP).
Kabupaten Agam merupakan salah satu dari kabupaten di Sumatera Barat yang menjadi pusat pertanian. Hal ini dikarenakan Kabupaten Agam memilih pembangunan pertanian menjadi sektor utama yang memberikan kontribusi besar terhadap pembangunan daerah. Potensi sumberdaya lahan pertanian terbesar adalah lahan sawah dengan luas lahan baku sawah yaitu ±.28,537 Ha, lahan untuk pengembangan tanaman jagung, ubi kayu, ubi jalar, kacang tanah, kacang hijau, kacang kedelai yang luas lahannya mencapai ±.7.047 Ha.Nagari Kamang Hilir merupakan suatu kenagarian penghasil beras dengan varietas mayoritas padi unggul lokal (98%). Varietas tersebut antara lain:
1.      Kuriak kusuik (60%)
2.      Padi putiah (40%).   
Dua jenis padi ini sangat diminati oleh masyarakat karena memiliki berbagai keunggulan. Selain tingginya produktifitas hasil, kualitas berasnya sangat kompetitif pada harga pasar. Pada saat ini, harga kedua beras ini menduduki harga tertinggi dibandingkan dengan harga beras lain yang berasal dari daerah lainnya.
Selain keunggulan padi lokal, petani di Nagari Kamang Magek juga memiliki kiat tersendiri dalam mengatasi hama guna mendapatkan hasil panen yang maksimal yaitu dengan menyampurkan pupuk dengan sedikit belerang dan kapur batus. Belerang dan kapur barus ini berujuan untuk mengurangi serangan hama tikus yang tidak menyukai aromanya. Sedikit porsi belerang dan kapur barus dalam pupuk tidak akan berpengaruh pada kualitas dan kuantitas hasil panen serta keadaan lahan sawah. Untuk hama burung, petani masih menggunakan cara lama yaitu dengan menggunakan pita hitam yang dibentangkan dari sisi sawah ke sisi sawah lainnya,yang bertujuan untuk mengusir burung pemakan padi, dimana menurut beliau burung-burung tersebut merasa takut karena pita tersebut akan meliuk-liuk seperti ular pemangsa burung ketika digoyang oleh angin.
Selain teknik pengolahan, beberapa alat yang digunakan oleh para petani dalam pengelolaan sawah di Nagari Kamang Hilir sudah mengalami perubahan, mulai dari proses penanaman hingga pengolahan hasil, seperti; dalam membajak sawah yang dulunya menggunakan hewan berupa kerbau, kini telah berubah menggunakan mesin traktor; proses mairiak pelepasan padi dari batang padi; pengupasan kulit padi menjadi beras yang telah menggunakan mesin penggiling padi.
Kearifan lokal yang dipakai oleh petani Kanagarian Kamang Hilir dalam pengelolaan sawah mengalami perubahan. Adanya pembentukan kelompok tani dan perkembangan teknologi yang memudahkan mereka dalam bercocok tanam sehingga para petani mulai mengelola lahan secara terorganisir (Sang T).
Sumber: http://anisabasma.blogspot.com/2014/10/kearifan-lokal-dalam-pengelolaan-padi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar