Tulisan ini
akan membahas tentang kearifan lokal dalam pengelolaan padi sawah di
Nagari Kamang Hilia Kecamatan Kamang Magek Kabupaten Agam Sumatera Barat.
Padi sawah
menjadi menarik untuk diteliti karena tiap daerah memiliki pengetahuan
lokal masing-masing dalam pengelolaannya dan secara umum masyarakat
Indonesia khususnya bagian barat mengkonsumsi beras sebagai makanan pokok.
Perkembangan di bidang pertanian terus mereka ikuti hingga sekarang
agar mendapatkan hasil yang terbaik dan dapat memenuhi kebutuhan ekonomi
mereka. Dengan demikian, dalam pengelolaan pertanian sawah petani Nagari
Kamang Hilia menggabungkan kearifan lokal yang mereka miiki dengan
teknologi baru dibidang pertanian.
Salah satu
provinsi yang menggunakan kearifan lokal dalam pengelolaan padi sawah
adalah Provinsi Sumatera Barat. Provinsi Sumatera Barat mengalami kemajuan yang
cukup pesat pada sektor pertanian. Potensi pertanian yang meningkat ini
didapat dari bertambahnya luas panen padi sebesar 1,03% karena adanya
program 12 arah kebijakan pembangunan pertanian dan Gerakan Penyejahteraan
Petani (GPP).
Kabupaten Agam
merupakan salah satu dari kabupaten di Sumatera Barat yang menjadi pusat
pertanian. Hal ini dikarenakan Kabupaten Agam memilih pembangunan
pertanian menjadi sektor utama yang memberikan kontribusi besar terhadap
pembangunan daerah. Potensi sumberdaya lahan pertanian terbesar adalah
lahan sawah dengan luas lahan baku sawah yaitu ±.28,537 Ha, lahan
untuk pengembangan tanaman jagung, ubi kayu, ubi jalar, kacang tanah,
kacang hijau, kacang kedelai yang luas lahannya mencapai ±.7.047 Ha.Nagari
Kamang Hilir merupakan suatu kenagarian penghasil beras dengan varietas
mayoritas padi unggul lokal (98%). Varietas tersebut antara lain:
1. Kuriak kusuik (60%)
2. Padi putiah (40%).
Dua jenis
padi ini sangat diminati oleh masyarakat karena memiliki berbagai
keunggulan. Selain tingginya produktifitas hasil, kualitas berasnya sangat
kompetitif pada harga pasar. Pada saat ini, harga kedua beras ini
menduduki harga tertinggi dibandingkan dengan harga beras lain yang
berasal dari daerah lainnya.
Selain
keunggulan padi lokal, petani di Nagari Kamang Magek juga memiliki kiat
tersendiri dalam mengatasi hama guna mendapatkan hasil panen yang maksimal
yaitu dengan menyampurkan pupuk dengan sedikit belerang dan kapur batus.
Belerang dan kapur barus ini berujuan untuk mengurangi serangan hama tikus
yang tidak menyukai aromanya. Sedikit porsi belerang dan kapur barus dalam
pupuk tidak akan berpengaruh pada kualitas dan kuantitas hasil panen serta
keadaan lahan sawah. Untuk hama burung, petani masih menggunakan cara lama
yaitu dengan menggunakan pita hitam yang dibentangkan dari sisi sawah ke
sisi sawah lainnya,yang bertujuan untuk mengusir burung pemakan padi, dimana
menurut beliau burung-burung tersebut merasa takut karena pita tersebut
akan meliuk-liuk seperti ular pemangsa burung ketika digoyang oleh angin.
Selain teknik
pengolahan, beberapa alat yang digunakan oleh para petani dalam
pengelolaan sawah di Nagari Kamang Hilir sudah mengalami perubahan, mulai dari
proses penanaman hingga pengolahan hasil, seperti; dalam membajak sawah
yang dulunya menggunakan hewan berupa kerbau, kini telah
berubah menggunakan mesin traktor; proses mairiak pelepasan padi dari
batang padi; pengupasan kulit padi menjadi beras yang telah menggunakan
mesin penggiling padi.
Kearifan lokal
yang dipakai oleh petani Kanagarian Kamang Hilir dalam pengelolaan sawah
mengalami perubahan. Adanya pembentukan kelompok tani dan perkembangan
teknologi yang memudahkan mereka dalam bercocok tanam sehingga para petani
mulai mengelola lahan secara terorganisir (Sang T).
Sumber: http://anisabasma.blogspot.com/2014/10/kearifan-lokal-dalam-pengelolaan-padi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar