Beberapa masa yang lalu kami bersua dengan seorang
engku yang rupanya berasal dari salah satu nagari di Luhak Agam ini. Kami
bercakap-cakap perihal orang kampung, maklumlah engku orang rantau kalau bersua
dengan orang-orang yang sekampung pastilah bernostalgia. Memanglah nagari kami
tak sama, namun di rantau orang asalkan masih orang Kamang Magek, Tilatang
Kamang, Bukittinggi, Luhak Agam, atau Minangkabau maka kita akan langsung
merasa dekat.
“Tidak tuanku, maota saja engku ini! Kalau benar kenapa
saya tidak merasakan hal yang serupa?” tanya engku dan encik kepada kami.
“Memanglah benar demikian, sebab masing-masing orang
memiliki pengalaman yang berbeda-beda pula. Namun pernyataan kami di atas
seperti kata orang sekarang iala menjeneralisir.” Begitulah engku dan
encik sekalian.
Engku tak begitu lama kami bercakap-cakap, maka
kemudian datanglah kawan engku ini mencari beliau. Rupanya si engku ini telah
hilang, di telpon tak mengangkat oleh kawan beliau ini. Ketika ditanya kenapa
tak menghilang begitu saja serta telponpun tak pula diangkat. Maka si engku
menjawab dengan tersenyum simpul “Lupa saya memberi tahu kepergian saya
sedangkan hape saya tertinggal di dalam tas..”
Namun si engku langsung mengalihkan pembicaraan
“Perkenalkan engku ini kawan sekampung saya. Asal beliau ini ialah dari Nagari
Kamang, sekitar 12 Km sebelah Timur Laut Kota Bukittinggi..”
Kamipun bersalaman dan tampaknya kawan si engku ini
tertarik dengan nama Kamang “O.. macam tu, kalau saya tak salah ingat Kamang
itu ialah nama sebuah pemberontakan..”
“Benar engku, tahun 1908 tepatnya..” jawab kami.
Kemudian si engkupun tak mau kalah, beliaupun
meningkahi “Selain terkenal dengan Perang Kamangnya, kampung engku inipun
sangat terkenal dengan Durian Kamang, Limau Kamang, Manggis Kamang, Kerupuk
Kamang, Beras Kamang, Perabot Kamang, dan masih banyak lagi yang saya telah
lupa..”
“Kalau beras engku, untuk kisaran Bukittinggi dicari
orang, takkan laku beras Solok. Durian dan Manggis Kamang setiap tahunnya
dinanti orang musimnya. Cobalah nanti apabila kita pulang ketika musim durian
maka akan engku rasakan sendiri betapa nikmatnya Durian Kamang itu..”
Kami hanya tersenyum melihat betapa si engku
bersemangat sekali dalam memperkenalkan kampung kita kepada orang lain. Kawan
si engku inipun menjawab “Wah, banyak rupanya yang terkenal dari kampung engku
ini. Pastilah kampung engku merupakan sebuah kampung yang hebat..”
Tatkala malam harinya ketika hendak tidur di dipan kami
yang buruk, terkenang kembali segala kejadian sehari ini. Terfikir oleh kami,
betapa indah dan beruntungnya kampung kita Kamang. Begitu banyak hal-hal
(potensi) baik yang membuat orang terkenang akan kampung kita. Kemudian
tatkala kami sedang asyik memikirkan hal tersebut, muncul pertanyaan radikal
yang mengusik hati kami hingga kini “Bagaimana seandainya yang dikenang orang
tentang Kamang itu ialah yang buruk-buruk..?!”
Benar engku dan encik sekalian, bagaimana kalau yang
dikenang oleh orang itu ialah “pencuri, penipuan (ciluah), perbuatan maksiat,
penghujat agama, dan lain sebagainya..?”
Dalam hati kami berdo’a semoga janganlah hal serupa itu
yang berlaku hendaknya. Kita jaga jualah marwah Kamang ini… (Sang T).
Sumber: https://nagarikamang.wordpress.com/2014/11/26/yang-terkenang-akan-kamang/.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar