Beberapa hari nan lalu kami bersua dengan salah
seorang orang yang dapat dikatakan “sekampung” dengan kita. Maksudnya sekampung
disini tentulah asalkan sama-sama berasal dari Bukit Tinggi Salingka Agam maka
sudah sekampung itu namanya. Kami ditanya dimana kampung kami, lalu kami jawab
“Di Kamang engku..”
Si engku tampaknya merasa kenal, lalu dilanjutlah
untuk bertanya “Dimanakah Kamangnya itu?”
“Kamang Ilia engku..” jawab kami.
Segera si engku membalas “O.. dekat Tarusan
itukah..?”
Kami hanya tersenyum karena ini bukan kali
pertama kami mendapat prasangka yang demikian “Bukan engku, itu Kamang Mudiak,
nagari awak berbatasan dengan Nagari Salo dan Magek..”
Si engku rupanya tak hendak menyerah “O, dekat
Magek itukah?” tanya si engku kembali.
“Ya engku, sesudah Magek itulah Nagari Kamang
kampung kami engku..” jawab kami pasrah.
Dengan segera si engku kembali membalas “Bukankah
itu Nagari Magek namanya?”
Untuk kesekian kalinya kembali kami menahan kesal
“Bukan engku, itu ialah Kamang, Kamang Ilia sedangkan Tarusan itu di Kamang
Mudiak..”
Kami kisahkan kejadian tersebut kepada salah
seorang orang tua yang ada di sini, beliau hanya tersenyum masam “Tak adakah
engkau mendengar perihal Peringatan Perang Kamang tahun ini dari kampung?”
tanya si engku kepada kami “Sudah semenjak tahun nan lalu upacara peringatan
Perang Kamang tak dilega[1] lagi melainkan dilaksanakan di halaman
Kantor Camat Kamang Magek. Selepas upacara langsung dibawa ke Mudiak guna
berziarah ke makam pahlawan di sana serta tugu perang Kamang disana. Adapun di
kampung kita? Engkau tanya sajalah ke kampung!” perintah si engku “Sudah penat
pemuda kampung menghias-hias, namun orang Kamang berhasil dengan sukses dipecundangi..”
Kami memang pernah mendengar keadaan peringatan
Perang Kamang tahun ini, tersenyum saja kami mendengarnya. Bukannya tak kesal
dan sedih melihat orang kampung dipecundangi melainkan merasa ganjil saja.
Selama ini orang-orang di Mudiak berkata hendak menyatukan visi perihal Perang
Kamang. Namun pada kenyataannya mereka tetap tanpa raso jo pareso
keras kepala perihal Haji Abdul Manan, dan terakhir dalam peringatan tahun ini
semakin mengukuhkan niat mereka sebenarnya.
Salah seorang kawan pernah mengeluh “Orang-orang
menganggap nan Kamang itu Kamang Mudiak sedangkan nagari kita ini dikatakannya
Magek..!!” ya memang demikianlah adanya pada masa sekarang. Sudah semenjak lama
Pakan Salasa ditukar oleh orang namanya dengan “Pakan Magek” dan kita nan di
Kamang ini tiada berdaya.
“Sebenarnya bukannya tiada berdaya, melainkan
karena orang Kamang itu Orang Berakal jadi tak suka mencari rusuh dengan orang
lain..” dalih seorang kawan “Seperti kata orang tua-tua; Nan berakal itu
Nan Mengalah..”
Cemas kami akan berlakukah kiranya Cupak
dituka urang manggaleh, Jalan dialiah urang lalu.
Sumber: https://nagarikamang.wordpress.com/2015/07/06/nan-mana-kamang/
Tidak ada komentar:
Posting Komentar