Selasa, 15 September 2015

Beternak Kelinci Antara Sambilan dan Prospek Bisnis

Rata-rata masyarakat didaerah pedesaan memilih usaha yang kiranya bisa menghasilkan keuntungan yang cukup lumayan dari pemanfaatan keadaan lingkungan sekitar mereka. Seperti pemanfaatan tanah yang subur, lahan yang cukup luas serta keadaan alam semisal rerumputan-rerumputan yang tumbuh disekitar daerah persawahan dan perkebunan. 
Banyak dari petani yang mencoba usaha beternak kelinci. Salah satunya adalah H. Sastra Maryadi, Bapak paruh baya yang merupakan Ketua kelompoktani Cubadak Saiyo di Jorong Cubadak, Kanagarian Magek. Minat yang kuat untuk berusaha beternak kelinci coba ditetapkan olehnya sepulang dari merantau di Jakarta. Memulai usaha beternak kelinci sejak Tahun 2005, Sastra Maryadi saat ini telah mempunyai 29 ekor induk dan 6 ekor kelinci pejantan yang menghasilkan ribuan ekor anak kelinci tiap  tahunnya. Untuk pemasaran, Sastra tidak kesulitan karena selalu saja ada toke yang datang ke kandang menjemput untuk dipasarkan ke daerah Jambi, Riau maupun ke Medan. Dengan harga jual Rp 25.000,- per ekor anak kelinci umur 25 hari, Sastra mampu menjual sekitar lebih dari 60-70 ekor kelinci tiap bulannya.
Melihat potensi lahan yang dimiliki dan faktor pakan lokalita yang tersdia sepanjang waktu, Sastra berharap untuk beberapa bulan ke depan dapat meningkatkan jumlah populasi induk kelinci produktif sebanyak 100 ekor dan dapat meraup penghasilan minimal Rp 100.000,- per bulan untuk tiap ekor induk.
Permasalahan utama yang dihadapi peternak kelinci pada umumnya adalah faktor penyakit. Yose Elfiranto, SST selaku penyuluh peternakan menerangkan beberapa faktor penyebab timbulnya penyakit adalah kelengahan dalam menjaga sanitasi kandang. Pemberian pakan berkualitas  jelek, volume pakan kurang, air minum kotor atau kurang, kekurangan nutrisi (protein, vitamin, mineral), perubahan suhu, dan  ketidaktahuan mengenai penyakit kelinci. Kelinci sakit menunjukkan gejala yang menyolok antara lain lesu, nafsu makan hilang, mata sayu, suhu badan naik turun.  Kelinci yang menunjukkan gejala-gejala tersebut sebaiknya dipisahkan dikandang karantina (dipisahkan dengan kelinci lain) untuk dirawat sendiri.
Menutup diskusi, Yose menyampaikan bahwa beternak kelinci merupakan pekerjaan yang ringan dan sangat bermanfaat bagi kehidupan di masyarakat. Peternak harus benar-benar mengetahui tanda-tanda kelinci yang sedang birahi dan juga mengetahui cara mengawinkan kelinci yang benar. Beternak kelinci dengan cara yang baik dan benar serta memakai cara-cara yang benar maka akan membawa keberhasilan yang memuaskan. Selain itu beternak kelinci tidak membutuhkan modal terlalu besar, serta tempat yang tidak terlalu luas, maka beternak kelinci mudah dikembangkan sebagai usaha sambilan (Sang T).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar