Tanah merupakan faktor produksi pertanian yang penting.
Keseimbangan tanah dengan kandungan bahan organik, mikro organisme dan
aktivitas biologi serta keberadaan unsur-unsur hara dan nutrisi sangat penting
untuk keberlanjutan pertanian kedepan, begitu juga dengan kesehatan manusia
mempunyai hubungan langsung dengan kesehatan tanah.
Salah satu permasalahan yang dihadapi banyak petani
adalah kesehatan dan kesuburan tanah yang semakin menurun. Hal ini
ditunjukkan dengan gejala-gejala sebagai berikut ; tanah cepat kering,
retak-retak bila kurang air, lengket bila diolah, lapisan olah dangkal, asam
dan padat, produksi sulit meningkat bahkan cenderung menurun. Kondisi ini
semakin buruk karena penggunaan pupuk an-organik terus meningkat dan penggunaan
pestisida untuk mengendalikan organisme pengganggu tumbuhan juga
meningkat. Perilaku usaha tani lebih tertuju pada cara memupuk tanaman,
bukan cara memupuk tanah agar tanah menjadi subur, sehingga dapat menyediakan
sekaligus memberikan banyak nutrisi pada tanaman.
Saat ini usahatani secara umum belum melibatkan tanah
sebagai komponen yang mempengaruhi dan menentukan keputusan pengendalian dalam
pengelolaan suatu agroekosistem. Di beberapa tempat masih terjadi pembakaran
sisa jerami sebelum pengolahan lahan, sehingga mengakibatkan pencemaran udara
dan rotasi unsur hara tidak terjadi.
Semakin bertambahnya jumlah penduduk maka kebutuhan
akan beras sebagai sumber pangan nasional makin meningkat. Namun
banyaknya alih fungsi lahan yang terjadi saat ini menjadi persoalan serius yang
perlu ditanggulangi. Terjadinya alih fungsi lahan sawah dapat mengganggu produksi
pangan, apabila tidak ada solusi dalam mengatasi masalah ini dikhawatirkan akan
terjadi krisis pangan.
PENERAPAN METODE SRI (SYSTEM OF RICE
INTENSIFICATION)
System of Rice Intensification (SRI) adalah teknik
budidaya tanaman padi yang mampu meningkatkan produktivitas padi dengan cara
mengubah pengelolaan tanaman, tanah, air dan unsur hara, terbukti telah
berhasil meningkatkan produktivitas padi sebesar 50% bahkan dibeberapa tempat
mencapai lebih dari 100%.
Usahatani padi sawah organik metode SRI adalah usaha
tani padi sawah irigasi secara intensif dan efisien dalam pengelolaan tanah,
tanaman dan air yang berbasis kaidah ramah lingkunga. Dengan meningkatnya harga
pupuk dan pestisida kimia serta semakin rusaknya lingkungan sumber daya akibat
penggunaan pupuk yang terus menerus dan pemakaian bahan kimia, telah mendorong
petani di beberapa tempat mempraktekkan metode System Of Rice Intensification
(SRI).
Secara umum dalam konsep SRI tanaman diperlakukan
sebagai organisme hidup sebagaimana mestinya, tidak diperlakukan seperti mesin
yang dapat dimanipulasi. Semua potensi tanaman padi dikembangkan dengan
cara memberikan kondisi yang sesuai dengan pertumbuhannya. Hal ini karena
SRI menerapkan konsep sinergi, dimana semua komponen teknologi SRI berinteraksi
secara positif dan saling menunjang sehingga hasil secara keseluruhan lebih
banyak daripada jumlah masing-masing bagian. Komponen penting dalam
penerapan SRI yaitu :
1. Bibit dipindah lapangan (Transplantasi)
lebih awal (bibit muda).
2. Bibit ditanam satu batang per lubang
tanam.
3. Jarak tanam lebar.
4. Kondisi tanah tetap lembab tapi tidak
tergenang air (irigasi berselang)
5. Menggunakan pupuk dari bahan organik
kompos dan mikro organisme local (MOL)
6. Dilakukan Penyiangan/pendangiran.
Hal paling mendasar dalam budidaya SRI adalah menerapkan
irigasi intermitten artinya siklus basah kering bergantung pada kondisi lahan,
tipe tanah dan ketersediaan air. Selama kurun waktu penanaman lahan tidak
tergenang tetapi macak-macak (basah tapi tidak tergenang). Cara ini bisa
menghemat air 46%. Selain itu sedikitnya air juga mencegah kerusakan akar
tanaman. Penggenangan air menyebabkan kerusakan jaringan perakaran akibat
terbatasnya suplay oksigen. Semakin tinggi air semakin kecil oksigen
terlarut, dampaknya akar tanaman tidak mampu mengikat oksigen sehingga
jaringan perakaran rusak. Selain itu jika air tergenang menyebabkan musuh alami
hama padi tidak dapat hidup sedangkan hama padi dapat hidup dan dapat
memunculkan hama padi baru yang berasal dari lingkungan aquatik.
Disamping menghemat air, budidaya intensif itu juga
menghemat penggunaan bibit, sebab satu lubang tanam hanya ditanam satu
bibit. Dengan menanam satu bibit per lubang berarti menghindari perebutan
cahaya atau hara dalam tanah sehingga sistem perakaran dan pertumbuhan tanaman
menjadi lebih baik. Sebaliknya jika penanaman terdiri atas 9 bibit per
lubang kompetisi hara tidak terelakkan.
Dalam intensifikasi digunakan bibit muda umurnya 7 hari
pasca semai dan terdiri atas dua daun. Penggunaan bibit muda berdampak
positif karena lebih mudah beradaptasi dan tidak gampang stress, ini
dikarenakan perakaran belum panjang maka penanaman pun tidak perlu terlalu
dalam cukup 1-2 cm dari permukaan tanah. Untuk menghasilkan bibit muda
yang berkualitas petani mempersiapkan sejak penyemaian. Populasi di
persemaian 50 gr/m2 dimaksudkan agar bibit cepat besar, karena tidak terjadi
persaingan unsur hara, dengan demikian bibit sudah siap tanam pada umur 7-10
hari. Transplantasi saat bibit muda dapat mengurangi guncangan dan
meningkatkan kemampuan tanaman dalam memproduksi batang dan akar selama
pertumbuhan vegetatif, sehingga jumlah anakan/batang yang muncul lebih banyak
dalam satu rumpun, dan bulir padi yang dihasilkan oleh malai juga lebih banyak.
Petani intensif menanam bibit muda dengan jarak tanam
40 cm x 30 cm, total populasi dalam satu hektar mencapai 83.000 tanaman,
sementara pada sistem konvensional berjarak tanam 20 cm x 20 cm terdiri atas
250 ribu tanaman. Dengan jarak tanam longgar sinar matahari dapat
menembus sela-sela tanaman. tanaman memerlukan sinar matahari untuk melakukan
proses fotosintesis sehingga pasokan makanan tercukupi. Dengan demikian
dalam umur 30 hari, dari satu bibit sudah menghasilkan 65 anakan.
SRI menganjurkan pemakaian bahan organik (kompos) dan
Mikro Organisme Lokal (MOL) untuk memperbaiki struktur tanah agar padi dapat
tumbuh dengan baik dan hara tersuplai kepada tanaman secara baik tanpa
menimbulkan efek kimia. Keterlibatan kompos dan MOL (Mikro organisme
lokal) sebagai tim sukses dalam pencapaian produktivitas yang berlipat ganda,
karena peran kompos lebih komplek dari pupuk, karena selain sebagai penyuplai
nutrisi kompos juga berperan sebagai komponen bioreaktor yang bertugas menjaga
pertumbuhan tetap optimal. Konsep bioreaktor adalah kunci sukses SRI,
bioreaktor yang dibangun oleh MOL dan kompos, menjamin bahwa padi selama
pertumbuhan dari bibit sampai dewasa tidak mengalami hambatan. Fungsi
bioreaktor sangatlah komplek, fungsi yang telah diidentifikasi antara lain
sebagai penyuplai nutrisi melalui eksudat, kontrol mikroba sesuai kebutuhan
padi, menjaga stabilitas kondisi tanah menuju kondisi ideal bagi pertumbuhan
padi bahkan kontrol terhadap penyakit yang dapat menyerang padi.
Pendangiran/penyiangan dianjurkan sejak awal sekitar 10
hari dan diulang 2-3 kali dengan interval 10 hari menggunakan gasrok atau
lalandak, selain untuk membersihkan gulma juga dapat memperbaiki struktur tanah
dan meningkatkan aerasi tanah.
Penerapan SRI bisa diperuntukkan bagi berbagai varietas
padi lain yang pernah ditanam petani, hanya saja diperlukan pikiran yang
terbuka untuk menerima metode baru dan kemudian untuk bereksperimen. Oleh
karena itu, kajian SRI menggaris-bawahi bagaimana pentingnya integrasi dan
interdisiplin yang menggabungkan aspek biofisik dan sosial ekonomi dalam
usahatani padi. Kenyataan tersebut telah membuka stagnasi produksi padi
di Madagaskar dan beberapa negara lain di dunia melalui pengurangan biaya produksi
dengan tetap menjaga kelestarian lingkungan.
Penerapan SRI di Kecamatan Kamang Magek dilaksanakan
pada kelompoktani Kubang Sepakat yang berada di Jorong Kubang Kanagarian Magek
seluas 20 Ha (Sang T).
Sumber: https://uwityangyoyo.wordpress.com
Tidak ada komentar:
Posting Komentar