Selasa, 01 September 2015

PENERAPAN METODE SRI (SYSTEM OF RICE INTENSIFICATION)

Tanah merupakan faktor produksi pertanian yang penting. Keseimbangan tanah dengan kandungan bahan organik, mikro organisme dan aktivitas biologi serta keberadaan unsur-unsur hara dan nutrisi sangat penting untuk keberlanjutan pertanian kedepan, begitu juga dengan kesehatan manusia mempunyai hubungan langsung dengan kesehatan tanah.
Salah satu permasalahan yang dihadapi banyak petani adalah kesehatan dan kesuburan tanah yang semakin menurun.  Hal ini ditunjukkan dengan gejala-gejala sebagai berikut ; tanah cepat kering, retak-retak bila kurang air, lengket bila diolah, lapisan olah dangkal, asam dan padat, produksi sulit meningkat bahkan cenderung menurun. Kondisi ini semakin buruk karena penggunaan pupuk an-organik terus meningkat dan penggunaan pestisida untuk mengendalikan organisme pengganggu tumbuhan juga meningkat.  Perilaku usaha tani lebih tertuju pada cara memupuk tanaman, bukan cara memupuk tanah agar tanah menjadi subur, sehingga dapat menyediakan sekaligus memberikan banyak nutrisi pada tanaman.
Saat ini usahatani secara umum belum melibatkan tanah sebagai komponen yang mempengaruhi dan menentukan keputusan pengendalian dalam pengelolaan suatu agroekosistem. Di beberapa tempat masih terjadi pembakaran sisa jerami sebelum pengolahan lahan, sehingga mengakibatkan pencemaran udara dan rotasi unsur hara tidak terjadi.
Semakin bertambahnya jumlah penduduk maka kebutuhan akan beras sebagai sumber pangan nasional makin meningkat.  Namun banyaknya alih fungsi lahan yang terjadi saat ini menjadi persoalan serius yang perlu ditanggulangi. Terjadinya alih fungsi lahan sawah dapat mengganggu produksi pangan, apabila tidak ada solusi dalam mengatasi masalah ini dikhawatirkan akan terjadi krisis pangan.
PENERAPAN  METODE SRI (SYSTEM OF RICE INTENSIFICATION)
System of Rice Intensification (SRI) adalah teknik budidaya tanaman padi yang mampu meningkatkan produktivitas padi dengan cara mengubah pengelolaan tanaman, tanah, air dan unsur hara, terbukti telah berhasil meningkatkan produktivitas padi sebesar 50% bahkan dibeberapa tempat mencapai lebih dari 100%.
Usahatani padi sawah organik metode SRI adalah usaha tani padi sawah irigasi secara intensif dan efisien dalam pengelolaan tanah, tanaman dan air yang berbasis kaidah ramah lingkunga. Dengan meningkatnya harga pupuk dan pestisida kimia serta semakin rusaknya lingkungan sumber daya akibat penggunaan pupuk yang terus menerus dan pemakaian bahan kimia, telah mendorong petani di beberapa tempat mempraktekkan metode System Of Rice Intensification (SRI).
Secara umum dalam konsep SRI tanaman diperlakukan sebagai organisme hidup sebagaimana mestinya, tidak diperlakukan seperti mesin yang dapat dimanipulasi.  Semua potensi tanaman padi dikembangkan dengan cara memberikan kondisi yang sesuai dengan pertumbuhannya.  Hal ini karena SRI menerapkan konsep sinergi, dimana semua komponen teknologi SRI berinteraksi secara positif dan saling menunjang sehingga hasil secara keseluruhan lebih banyak daripada jumlah masing-masing bagian. Komponen penting dalam penerapan SRI yaitu :
1.   Bibit dipindah lapangan (Transplantasi) lebih awal (bibit muda).
2.   Bibit ditanam satu batang per lubang tanam.
3.   Jarak tanam lebar.
4.   Kondisi tanah tetap lembab tapi tidak tergenang air (irigasi berselang)
5.   Menggunakan pupuk dari bahan organik kompos dan mikro organisme local (MOL)
6.   Dilakukan Penyiangan/pendangiran.
Hal paling mendasar dalam budidaya SRI adalah menerapkan irigasi intermitten artinya siklus basah kering bergantung pada kondisi lahan, tipe tanah dan ketersediaan air.  Selama kurun waktu penanaman lahan tidak tergenang tetapi macak-macak (basah tapi tidak tergenang).  Cara ini bisa menghemat air 46%.  Selain itu sedikitnya air juga mencegah kerusakan akar tanaman. Penggenangan air menyebabkan kerusakan jaringan perakaran akibat terbatasnya suplay oksigen. Semakin tinggi air semakin kecil oksigen terlarut,  dampaknya akar tanaman tidak mampu mengikat oksigen sehingga jaringan perakaran rusak. Selain itu jika air tergenang menyebabkan musuh alami hama padi tidak dapat hidup sedangkan hama padi dapat hidup dan dapat memunculkan hama padi baru yang berasal dari lingkungan aquatik.
Disamping menghemat air, budidaya intensif itu juga menghemat penggunaan bibit, sebab satu lubang tanam hanya ditanam satu bibit.  Dengan menanam satu bibit per lubang berarti menghindari perebutan cahaya atau hara dalam tanah sehingga sistem perakaran dan pertumbuhan tanaman menjadi lebih baik.  Sebaliknya jika penanaman terdiri atas 9 bibit per lubang kompetisi hara tidak terelakkan.
Dalam intensifikasi digunakan bibit muda umurnya 7 hari pasca semai dan terdiri atas dua daun.  Penggunaan bibit muda berdampak positif karena lebih mudah beradaptasi dan tidak gampang stress, ini dikarenakan perakaran belum panjang maka penanaman pun tidak perlu terlalu dalam cukup 1-2 cm dari permukaan tanah.  Untuk menghasilkan bibit muda yang berkualitas petani mempersiapkan sejak penyemaian.  Populasi di persemaian 50 gr/m2 dimaksudkan agar bibit cepat besar, karena tidak terjadi persaingan unsur hara, dengan demikian bibit sudah siap tanam pada umur 7-10 hari.  Transplantasi saat bibit muda dapat mengurangi guncangan dan meningkatkan kemampuan tanaman dalam memproduksi batang dan akar selama pertumbuhan vegetatif, sehingga jumlah anakan/batang yang muncul lebih banyak dalam satu rumpun, dan bulir padi yang dihasilkan oleh malai juga lebih banyak.
Petani intensif menanam bibit muda dengan jarak tanam 40 cm x 30 cm, total populasi dalam satu hektar mencapai 83.000 tanaman, sementara pada sistem konvensional berjarak tanam 20 cm x 20 cm terdiri atas 250 ribu tanaman.  Dengan jarak tanam longgar sinar matahari dapat menembus sela-sela tanaman. tanaman memerlukan sinar matahari untuk melakukan proses fotosintesis sehingga pasokan makanan tercukupi.  Dengan demikian dalam umur 30 hari, dari satu bibit sudah menghasilkan 65 anakan.
SRI menganjurkan pemakaian bahan organik (kompos) dan Mikro Organisme Lokal (MOL) untuk memperbaiki struktur tanah agar padi dapat tumbuh dengan baik dan hara tersuplai kepada tanaman secara baik tanpa menimbulkan efek kimia.  Keterlibatan kompos dan MOL (Mikro organisme lokal) sebagai tim sukses dalam pencapaian produktivitas yang berlipat ganda, karena peran kompos lebih komplek dari pupuk, karena selain sebagai penyuplai nutrisi kompos juga berperan sebagai komponen bioreaktor yang bertugas menjaga pertumbuhan tetap optimal.  Konsep bioreaktor adalah kunci sukses SRI, bioreaktor yang dibangun oleh MOL dan kompos,  menjamin bahwa padi selama pertumbuhan dari bibit sampai dewasa tidak mengalami hambatan.  Fungsi bioreaktor sangatlah komplek, fungsi yang telah diidentifikasi antara lain sebagai penyuplai nutrisi melalui eksudat, kontrol mikroba sesuai kebutuhan padi, menjaga stabilitas kondisi tanah menuju kondisi ideal bagi pertumbuhan padi bahkan kontrol terhadap penyakit yang dapat menyerang padi.
Pendangiran/penyiangan dianjurkan sejak awal sekitar 10 hari dan diulang 2-3 kali dengan interval 10 hari menggunakan gasrok atau lalandak, selain untuk membersihkan gulma juga dapat memperbaiki struktur tanah dan meningkatkan aerasi tanah.
Penerapan SRI bisa diperuntukkan bagi berbagai varietas padi lain yang pernah ditanam petani, hanya saja diperlukan pikiran yang terbuka untuk menerima metode baru dan kemudian untuk bereksperimen.  Oleh karena itu, kajian SRI menggaris-bawahi bagaimana pentingnya integrasi dan interdisiplin yang menggabungkan aspek biofisik dan sosial ekonomi dalam usahatani padi.  Kenyataan tersebut telah membuka stagnasi produksi padi di Madagaskar dan beberapa negara lain di dunia melalui pengurangan biaya produksi dengan tetap menjaga kelestarian lingkungan.
Penerapan SRI di Kecamatan Kamang Magek dilaksanakan pada kelompoktani Kubang Sepakat yang berada di Jorong Kubang Kanagarian Magek seluas 20 Ha (Sang T).
Sumber: https://uwityangyoyo.wordpress.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar