Sistem tanam legowo
merupakan cara tanam padi sawah dengan pola beberapa barisan
tanaman yang kemudian diselingi satu barisan kosong. Tanaman yang seharusnya ditanam pada barisan yang kosong dipindahkan sebagai
tanaman sisipan di dalam barisan. Pada
awalnya tanam jajar legowo umum diterapkan untuk daerah yang banyak serangan hama dan penyakit. Pada baris kosong, di antara unit
legowo, dapat dibuat parit dangkal. Parit dapat berfungsi untuk mengumpulkan keong mas, menekan tingkat keracunan
besi pada tanaman padi atau untuk
pemeliharaan ikan kecil (muda). Namun kemudian, pola tanam ini berkembang
untuk memberikan hasil yang lebih tinggi akibat dari peningkatan populasi dan optimalisasi ruang tumbuh bagi tanaman.
Sistem tanam jajar legowo
pada arah barisan tanaman terluar
memberikan ruang tumbuh yang lebih longgar sekaligus populasi yang lebih tinggi. Dengan sistem tanam ini, mampu memberikan
sirkulasi udara dan pemanfaatan sinar matahari
lebih optimal untuk pertanaman. Selain itu, upaya penanggulangan gulma dan pemupukan
dapat dilakukan dengan lebih mudah.
Prinsip Tanam Jajar Legowo
Sistem tanam jajar legowo
adalah suatu rekayasa teknologi untuk mendapatkan populasi tanaman lebih dari
160.000 per hektar. Penerapan jajar legowo selain meningkatkan populasi
pertanaman, juga mampu menambah kelancaran sirkulasi sinar matahari dan udara
di sekeliling tanaman pinggir sehingga tanaman dapat berfotosintesa lebih baik.
Selain itu, tanaman yang
berada di pinggir diharapkan memberikan produksi yang lebih tinggi dan kualitas
gabah yang lebih baik, mengingat pada sistem tanam jajar legowo terdapat ruang
terbuka seluas 25-50%, sehingga tanaman dapat menerima sinar matahari secara
optimal yang berguna dalam proses fotosintesis.
Penerapan sistem tanam
jajar legowo disarankan menggunakan jarak tanam (25 x 25) cm antar rumpun dalam
baris; 12,5 cm jarak dalam baris; dan 50 cm sebagai jarak antar barisan/lorong
atau ditulis (25 x 12,5 x 50) cm. Hindarkan penggunaan jarak tanam yang sangat
rapat, misalnya (20 x 20) cm, karena akan menyebabkan jarak dalam baris sangat
sempit.
Sistem tanam jajar legowo
yang sudah di perkenalkan dan sudah diadopsi oleh para petani adalah Jajar
Legowo 2:1 dan Jajar Legowo 4 : 1 tipe 1 maupun tipe 2. Namun pelaksanaan di
lapangan masih banyak ditemukan dengan penanaman sistem jajar legowo 5 : 1;
jajar legowo 6 : 1; dan bahkan ada yang jajar legowo 8 : 1. Beragamnya praktek
legowo di lapangan tersebut menuntut adanya buku acuan penerapan sistem
tanam legowo yang benar mulai dari penanaman hingga pengambilan sampel ubinan,
sehingga dalam pelaksanaannya benar-benar dapat mencapai tujuan yang diharapkan.
Untuk itu, Badan Litbang Pertanian, Kementerian Pertanian menerbitkan buku
tentang Sistem Tanam Legowo, 2014. Lebih lanjut dapat dijelaskan sistem
tanam jajar legowo 2 : 1 dan jajar legowo 4 : 1 tipe 1 maupun tipe 2.
Legowo 2:1
Sistem tanam jajar legowo
2:1 akan menghasilkan jumlah populasi tanaman per ha sebanyak 213.300 rumpun,
serta akan meningkatkan populasi 33,31% dibanding pola tanam tegel (25 x 25) cm
yang hanya 160.000 rumpun/ha. Dengan pola tanam ini, seluruh barisan tanaman
akan mendapat tanaman sisipan.
Legowo 4:1 Tipe 1
Sistem tanam jajar legowo
4:1 tipe 1 merupakan pola tanam jajar legowo dengan keseluruhan baris mendapat
tanaman sisipan. Pola ini cocok diterapkan pada kondisi lahan yang kurang
subur. Dengan pola ini, populasi tanaman mencapai 256.000 rumpun/ha dengan
peningkatan populasi sebesar 60% dibanding pola tegel (25 x 25) cm.
Legowo 4:1 Tipe 2
Sistem tanam jajar legowo
4:1 tipe 2 merupakan pola tanam dengan hanya memberikan tambahan tanaman
sisipan pada kedua barisan tanaman pinggir. Populasi tanaman 192.712
rumpun/ha dengan persentase peningkatan hanya sebesar 20,44% dibanding pola
tegel (25 x 25) cm. Pola ini cocok diterapkan pada lokasi dengan tingkat
kesuburan tanah yang tinggi. Meskipun penyerapan hara oleh tanaman lebih
banyak, tetapi karena tanaman lebih kokoh sehingga mampu meminimalkan resiko
kerebahan selama pertumbuhan.
Tujuan cara tanam legowo
adalah:
- Memanfaatkan sinar matahari bagi tanaman yang berada pada bagian pinggir barisan. Semakin banyak sinar matahari yang mengenai tanaman, maka proses fotosintesis oleh daun tanaman akan semakin tinggi sehingga akan mendapatkan bobot buah yang lebih berat.
- Mengurangi kemungkinan serangan hama, terutama tikus. Pada lahan yang relatif terbuka, hama tikus kurang suka tinggal di dalamnya.
- Menekan serangan penyakit. Pada lahan yang relatif terbuka, kelembaban akan semakin berkurang, sehingga serangan penyakit juga akan berkurang.
- Mempermudah pelaksanaan pemupukan dan pengendalian hama/penyakit. Posisi orang yang melaksakan pemupukan dan pengendalian hama/penyakit bisa leluasa pada barisan kosong di antara 2 barisan legowo.
- Sistem tanaman berbaris ini juga berpeluang bagi pengembangan sistem produksi padi-ikan (mina padi) atau parlebek (kombinasi padi, ikan, dan bebek).
- Menambah populasi tanaman. Misal pada legowo 2 : 1, populasi tanaman akan bertambah sekitar 30 %. Bertambahnya populasi tanaman akan memberikan harapan peningkatan produktivitas hasil.
Dari uraian tersebut di
atas maka sistem tanam jajar legowo merupakan salah satu komponen teknologi
budidaya yang ditujukan untuk mengoptimalkan produktivitas tanaman padi melalui
pengaturan populasi. Tanaman diatur sehingga mendapatkan ruang tumbuh dan sinar
matahari yang maksimal. Selain itu, efektivitas pemeliharaan tanaman seperti
penyiangan, aplikasi pupuk, serta penanggulangan hama dan penyakit lebih
efektif. Penerapan sistem tanam jajar legowo yang benar, diharapkan mampu
memberikan keuntungan bagi petani karena adanya peningkatan produksi dan
produktivitas. Dengan demikian diharapkan pula swasembada berkelanjutan
komoditas padi dapat tercapai (Sang T).
Sumber: Berbagai sumber.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar