Dulu, pada era 60-an hingga
80-an, warga Kamang Magek Agam mampu membangun rumah hanya dengan bertanam
limau. Kala itu, Limau Kamang kesohor dengan buahnya yang manis dan tahan
lama jika disimpan. Distribusinya waktu itu tidak hanya menjangkau Sumbar,
tapi telah menembus provinsi tetangga, seperti Riau dan Jambi.
Tak heran jika saat itu sebagian besar
masyarakat Kamang Magek Kabupaten Agam lebih memilih bertanam limau sebagai
mata pencaharian mereka. Tapi mimpi buruk melanda Kamang Magek, karena pada
tahun 1989 hingga 1990, Limau Kamang punah akibat diserang hama penyakit
Citrus Vein Phloem Degeneration (CVPD), yang berarti kerusakan pembuluh tapis
pada jeruk.
CVPD merupakan penyakit yang paling merusak
perkebunan jeruk dan patogennya ditularkan melalui vektor serangga sejenis
kutu loncat. Penyebabnya adalah sejenis bakteri berflagela, Candidatus Liberibacter
spp.
Hama CVPD itu juga membuat masyarakat Kamang
mulai putus asa, karena waktu itu tidak ada obat pembasmi hama tersebut.
Hasilnya, Limau Kamang hilang dipasaran mulai era 90-an hingga 2000-an. Kondisi
ini membuat warga Kamang memilih berubah profesi, ada yang berkebun ubi, buka
perabotan dan yang lainnya.
Kini, harapan baru mulai muncul. Semenjak tahun
2006, beberapa kelompok warga mulai mencoba kembali untuk bertanam limau.
Hasilnya, pada tahun 2013 lalu hingga 2015 ini, ada beberapa kelompok tani yang
telah memanen limau mereka, meski hasil panen kali ini tidak sebooming di era
kejayaannya.
Menurut Camang Kamang Magek, Surya Wendri,
penanaman limau itu merupakan bagian dari program Dinas Pertanian Tanaman
Pangan Hortikultura dan Peternakan Kabupaten Agam. Menurutnya, pemerintah
dan masyarakat berharap bisa mengembalikan nama besar Limau Kamang pada masa
lalu.
“Dari 2006 hingga 2015 ini, telah ada sekitar 25
kelompok tani di Kecamatan Kamang Magek yang menanam limau, yang masing-masing
kelompoknya beranggotakan sekitar 15 hingga 30 orang,” ujar Surya Wendri.
Ia mengungkapkan, saat ini, limau sudah ditanam
di lahan seluas 80 hektare di Kecamatan Kamang Magek, yang mana satu hektare
lahan menampung sekitar 400 batang jeruk. Bahkan ada beberapa warga yang
secara swadaya membeli dan menanam jeruk di lahan mereka masing-masing.
Ia menjelaskan, Limau Kamang yang dulu tidak jauh
berbeda dengan yang sekarang. Jika dulu jenis Limau Kamang yang ditanam adalah
jenis Siam yang didatangkan dari Bangkinang, saat ini limau yang ditanam
adalah jenis Siam Madu dan Siam Gunuang Omeh yang didatangkan dari Kabupaten 50
Kota.
“Rasanya sama-sama manis antara limau yang
ditanam dulu dengan sekarang. Perbedaan yang menonjol hanya terletak pada kulit
limau. Kulit limau yang ditanam sekarang lebih terlihat menarik, karena
warnanya orange terang. Prospek Limau Kamang saat ini menurut saya masih
menjanjikan,” jelas Surya Wendri.
Ia melanjutkan, untuk sementara ini limau yang
telah dipanen baru dipasarkan di sekitar Kabupaten Agam dan Kota Bukittinggi.
Ia mengakui pihaknya masih mengkaji kualitas limau dan potensi pasar sebelum
meluncurkan produk limau tersebut ke provinsi lain.
Untuk mengantisipasi penyebaran hama yang bisa
mematikan tanaman jeruk, Surya Wendri mengatakan, para kelompok tani
telah diberi penyuluhan yang bekerjasama dengan Pengendali Hama Terpadu (PHT).
“Masing-masing kelompok tani telah diberi
penyuluhan, baik tentang pengenalan bibit yang bebas penyakit, tata cara
penanaman, pemberian pupuk, pengenalan hama dan serangga beserta cara membasminya,
serta sosialisasi lainnya yang memungkinkan para petani untuk bisa menjaga
tanamannya dari serangan hama,” jelas Surya Wendri.
Distribusi Limau Kamang saat ini dibagi menjadi
tiga grid atau tiga kelas, di antaranya Grid A yang buahnya tergolong super
besar, dengan satu kilogramnya hanya mencapai enam atau tujuh buah, kemudian
Grid B yang besarnya sedang dengan satu kilogramnya terdapat sekitar 9 buah
limau, serta Grid C atau yang berukuran kecil, yang satu kilogramnya berkisar
12 hingga 13 buah.
“Tak hanya limau, sebagian petani lainnya di
Kamang Magek juga banyak bertanam kakao. Bahkan saat ini telah ada komunitas
tani yang dibentuk warga dengan nama Garuda Muda. Komunitas ini mengajak
generasi muda untuk tidak berpangku tangan di rumah, serta mengimbau untuk
memanfaatkan lahan tidur agar ditanami tanaman yang bisa bermanfaat untuk
meningkatkan ekonomi warga,” lanjut Surya Wendri.
Sementara itu, Kepala Unit Pelayanan Teknis (UPT)
Badan Pelaksana Penyuluhan Pertanian Perikanan Kehutanan dan Ketahanan Pangan
(BP4K2P) Kecamatan Kamang Magek Kabupaten Agam Bakhrizal menambahkan, selama
tahun 2014 lalu, telah ada perluasan penanaman limau sekitar enam hektare.
“Perluasan itu ditanam oleh tiga kelompok tani,
diantaranya Kelompok Tani Usaha Muda dari Nagari Kamang Mudiak, Kelompok Tani
Kepsiba dari Nagari Kamang Hilia dan Kelompok Tani Anak Aia Saratuih dari
Jorong Aia Tabik Nagari Kamang Mudiak,” tutur Bakhrizal.
Bakhrizal mengungkapkan, saat ini jumlah hasil
panen Limau Kamang belum terlalu banyak, karena sebagian besar limau tanaman
warga baru mulai berbuah.
“Berbuahnya tidak serentak, jadi warga baru
melakukan panen di kelompok mereka masing-masing. Mungkin pada bulan Juni 2015
mendatang baru bisa panen raya,” prediksi Bakhrizal.***
Sumber: HASWANDI
Dikutip dari http://harianhaluan.com

Tidak ada komentar:
Posting Komentar